Prabowo Wanti-wanti Bahaya AI, Gibran Justru Mengagungkan, Herwin: Padahal Keduanya Sama-sama Gak Paham

6 hours ago 16
Ilustrasi kecerdasan buatan atau Artificial Intellegence (AI).

FAJAR.CO.ID, JAKARTA -- Pegiat media sosial, Herwin Sudikta, merespons pernyataan Presiden Prabowo Subianto terkait potensi kecerdasan buatan (AI) sebagai alat penyebaran hoaks.

Ia mengatakan bahwa terdapat perbedaan cara pandang antara Presiden Prabowo dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dalam melihat perkembangan teknologi tersebut.

Herwin menyebut perbedaan perspektif itu menunjukkan belum adanya pemahaman utuh terhadap AI.

Ia juga mengingatkan agar teknologi tersebut tidak dipandang secara berlebihan, baik sebagai ancaman maupun sesuatu yang harus diagungkan.

"Prabowo ngomong AI bisa jadi alat hoaks dan ganggu stabilitas. Di sisi lain, wakilnya sibuk glorifikasi AI sebagai masa depan," ujar Herwin dikutip fajar.co.id, Jumat(10/4/2026).

"Satu lihat ancaman. Satu lihat peluang. Padahal dua-duanya sama-sama gak paham AI. AI itu bukan buat ditakutin, juga bukan buat disembah," tambahnya.

Menurutnya, kebijakan yang lahir tanpa pemahaman menyeluruh berpotensi bersifat reaktif. Ia menilai hal tersebut dapat berdampak pada arah kebijakan publik.

"Kalau cuma dimakan mentah, ujungnya ya begini, kebijakan jadi reaktif, bukan berbasis pemahaman," tegas Herwin.

Dede Budhyarto: Dua Perspektif Saling Melengkapi

Menanggapi pernyataan tersebut, mantan Komisaris PT Pelni Dede Budhyarto menyampaikan pandangan berbeda.

Ia menilai sikap Presiden Prabowo dan Wakil Presiden Gibran justru merepresentasikan dua sisi penting dalam melihat perkembangan AI.

Presiden, kata Dede, melihat risiko yang dapat muncul dari penggunaan teknologi tersebut terhadap stabilitas informasi.

Read Entire Article
Rakyat news| | | |