
Oleh: Muliadi Saleh, Alumni Pesantren IMMIM, Pengurus DPP IAPIM, Ketua DKM Masjid Fatimah
KATA masjid berasal dari akar kata Arab sajada – yasjudu – masjidan, yang berarti "bersujud." Menariknya, dari seluruh gerakan dalam shalat, nama masjid justru diambil dari posisi sujud—gerakan terendah secara fisik, tetapi paling tinggi secara spiritual.
Jika hanya sekadar tempat berdiri, bisa saja ia dinamai maqam, sebagaimana Maqam Ibrahim di dekat Ka’bah. Namun, masjid bukan sekadar tempat berdiri. Jika hanya tempat ruku’, ia bisa disebut marka, sebagaimana posisi tubuh saat membungkuk. Jika hanya tempat duduk, ia bisa disebut majlis, sebagaimana halaqah ilmu yang biasa dilakukan di dalamnya. Tetapi tidak, masjid justru dinamai dari tempat sujud—karena sujud adalah inti dari ketundukan, puncak kepasrahan seorang hamba kepada Tuhannya.
Sujud adalah saat manusia berada dalam posisi terendah di bumi, tetapi justru paling dekat dengan Rabb-nya. Rasulullah ﷺ bersabda, "Keadaan terdekat seorang hamba dengan Tuhannya adalah ketika ia bersujud, maka perbanyaklah doa di dalamnya." (HR. Muslim). Dari sinilah, masjid bukan hanya tempat berkumpul, tetapi tempat di mana hati benar-benar berserah dan kehidupan menemukan porosnya.
Inilah mengapa masjid harus menjadi pusat peradaban. Bukan hanya tempat singgah untuk shalat, tetapi pusat dari setiap denyut kehidupan. Seperti taman yang menjadi sumber kesejukan bagi kota, masjid adalah mata air spiritual yang mengalirkan kebaikan ke pasar, kantor, sekolah, dan setiap sudut kehidupan.
Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di: