Adu Betis, Tradisi Leluhur yang Tetap Bertahan di Moncongloe

3 days ago 7
Tradisi adu betis di Kecamatan Moncongloe, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. (FOTO: ISTIMEWA)

Oleh: Desy Selviana
(Pustakawan)

Di tengah perkembangan zaman, masyarakat Kecamatan Moncongloe, Kabupaten Maros, masih mempertahankan tradisi Adu Betis atau yang dikenal dengan sebutan mappalanca. Tradisi ini digelar setiap tahun sebagai bagian dari pesta panen dan menjadi warisan budaya yang terus dijaga turun-temurun.

Adu Betis merupakan permainan rakyat yang menguji kekuatan fisik, khususnya kekuatan betis. Dua lelaki saling berhadapan di arena berbentuk lingkaran dan secara bergantian menendangkan betis lawan. Warga dari berbagai usia turut ambil bagian, sementara masyarakat lainnya menyaksikan langsung di sekitar arena.

Meski terlihat seperti pertandingan, masyarakat setempat menegaskan bahwa tradisi ini bukan untuk mencari pemenang. Adu Betis lebih dimaknai sebagai simbol ketahanan, keberanian, dan solidaritas warga. Tradisi ini juga menjadi pengingat terhadap leluhur mereka yang dikenal memiliki jiwa patriot dan pernah terlibat dalam menjaga kekuasaan Kerajaan Gowa.

Pelaksanaan mappalanca dilakukan di lokasi yang dianggap sakral, yakni di sebuah permakaman keramat yang terletak agak terpisah dari permukiman penduduk.

Makam tersebut berada dalam sebuah bangunan yang dikelilingi pohon-pohon asam besar dan rindang. Masyarakat meyakini makam itu sebagai makam Gallarang Moncongloe, leluhur Desa Moncongloe sekaligus paman dari Raja Gowa, Sultan Alauddin.

Tradisi Adu Betis tidak berdiri sendiri. Kegiatan ini merupakan bagian dari pesta panen tahunan sebagai wujud rasa syukur atas hasil pertanian. Lahan persawahan di Moncongloe umumnya berupa sawah tadah hujan yang hanya mengandalkan curah hujan. Masa tanam berlangsung antara Desember hingga Juni, sementara panen dilakukan sekitar Juli.

Read Entire Article
Rakyat news| | | |