FAJAR.CO.ID, JAKARTA -- Managing Director PEPS (Political Economy and Policy Studies), Anthony Budiawan, bicara terkait kondisi nilai tukar rupiah yang dinilai semakin rentan.
Ia menuturkan bahwa klaim pemerintah dan Bank Indonesia terkait kuatnya fundamental ekonomi tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi riil.
Dikatakan Anthony, narasi bahwa rupiah masih berada dalam kondisi aman tidak sejalan dengan sejumlah indikator struktural yang justru menunjukkan kelemahan.
Klaim Fundamental Kuat Dinilai Tidak Sesuai Fakta
Anthony menyebut pemerintah dan Bank Indonesia kerap menyampaikan bahwa fundamental ekonomi Indonesia kuat, termasuk nilai tukar rupiah.
Bahkan ada pandangan bahwa nilai wajar rupiah seharusnya berada di bawah Rp15.000 per dolar AS.
Ia mengakui argumen tersebut tampak solid, terutama karena cadangan devisa Indonesia yang disebut mencapai sekitar 150 miliar dolar AS per akhir Februari 2026 serta struktur utang pemerintah yang didominasi jangka panjang.
Namun, menurutnya, kondisi tersebut tidak mencerminkan kekuatan sebenarnya.
“Secara struktural, ekonomi Indonesia justru lemah, dan fundamental nilai tukar rupiah sangat rapuh,” ujar Anthony kepada fajar.co.id, Sabtu (21/3/2026).
Kemiskinan Tinggi Jadi Indikator Kelemahan
Anthony melihat bahwa kegagalan menurunkan angka kemiskinan secara signifikan menjadi salah satu bukti lemahnya struktur ekonomi Indonesia.
Ia menyebut berdasarkan standar kemiskinan internasional negara berpendapatan menengah atas, tingkat kemiskinan Indonesia mencapai 68,3 persen atau sekitar 194 juta penduduk.
Angka tersebut disebut jauh lebih tinggi dibandingkan Vietnam yang dinilai berhasil menekan kemiskinan di bawah 20 persen setelah reformasi ekonomi sejak 1986.

















































