FAJAR.CO.ID - Fenomena perusahaan di Indonesia yang lebih memilih tenaga kerja asing (TKA) dibandingkan tenaga kerja lokal kembali menjadi sorotan tajam. Konten kreator sekaligus penasihat karier, Abil Sudarman, mengungkapkan bahwa keputusan tersebut bukan semata-mata karena biaya tenaga kerja, melainkan terkait budaya kerja yang berbeda antara pekerja lokal dan asing.
Abil menegaskan bahwa dalam beberapa kasus, pekerja asing justru menerima gaji lebih tinggi dibandingkan karyawan lokal. "Di China itu gajinya memang lebih tinggi di sana, lebih mahal daripada karyawan di Jakarta, tapi orang di sana kerjanya 996. Budaya kerjanya kan dari jam 9 pagi, ke 9 malam, 6 hari seminggu. Udah jam kerjanya panjang, kerjanya serius," katanya.
Budaya Kerja 996 dan Efisiensi Kerja
Budaya kerja 996 yang berlangsung dari pukul sembilan pagi hingga sembilan malam selama enam hari seminggu, menurut Abil, membuat ritme kerja menjadi jauh lebih intens dan fokus. Ia membandingkan hal ini dengan kondisi di Indonesia, di mana banyak pekerja belum memanfaatkan waktu kerja secara optimal.
"Sepengalaman gue kerja, sepengalaman gue bikin usaha. Banyak teman-teman kerja gue yang kerjanya tuh nggak benar-benar serius 100 persen. Beda sama orang China. Orang Indonesia kadang kerja masih push rank, masih buka scroll reels, TikTok, dikit-dikit teleponan, video call sama bininya setengah jam," jelasnya.
Kinerja dan Kepuasan Kerja Pekerja Lokal
Menurut Abil, jam kerja delapan jam di Indonesia sering kali tidak dijalankan secara efektif. "Otomatis jam kerja yang harusnya 8 jam, dari 9 sampai 5, itu aja nggak benar-benar 8 jam. Dia kerja cuma 5 jam aja udah syukur," katanya.
















































