Warga Iran berkabung atas pembunuhan Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran, Ayatollah Sayyid Ali Khamenei - tasnimnews
FAJAR.CO.ID, JAKARTA -- Setelah terus menuai sorotan, Presiden Prabowo Subianto akhirnya menyampaikan belasungkawa atas wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Di tengah sorotan yang muncul karena ucapan tersebut dianggap terlambat, mantan Komisaris PT Pelni, Dede Budyarto, justru melihat langkah itu sebagai bagian dari kehati-hatian diplomasi Indonesia.
Dikatakan Dede, situasi di Timur Tengah yang melibatkan Israel, Amerika Serikat, dan Iran memang menuntut setiap kepala negara berhitung matang sebelum menyampaikan sikap resmi.
“Di tengah eskalasi konflik Timur Tengah yg melibatkan Israel, United States, dan Iran, setiap kata dari seorang kepala negara memiliki konsekuensi geopolitik,” ujar Dede dikutip fajar.co.id, Kamis (5/3/2026).
Setiap Pernyataan Kepala Negara Punya Dampak Geopolitik
Ia menegaskan bahwa keputusan Presiden Prabowo yang tidak tergesa-gesa menyampaikan ucapan duka bukan berarti abai terhadap peristiwa tersebut.
Justru, langkah itu dianggap sebagai bentuk kedewasaan dalam diplomasi.
“Ketika Presiden Prabowo Subianto menyampaikan ucapan duka atas gugurnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei tidak secara tergesa-gesa, banyak yang mempertanyakan," ucapnya.
"Namun dalam diplomasi, kehati-hatian justru sering kali merupakan tanda kematangan,” sambung dia.
Dede menjelaskan, Indonesia memilih menunggu situasi lebih stabil serta melakukan verifikasi sebelum mengeluarkan sikap resmi.
Pendekatan ini dinilai menunjukkan bahwa negara tidak bertindak berdasarkan emosi semata.
















































