Demontrasi Rakyat AS Semakin Masif, Denny Siregar: Iran Bukan Irak dan Venezuela, Trump Sedang Menghitung Hari Menuju Kehancuran

3 hours ago 2
Demontrasi besar-besaran dilakukan Rakyat Amerika Serikat di berbagai kota besar negara itu.

​FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Pegiat media sosial sekaligus produser film, Denny Siregar, memberikan analisis menohok terkait memanasnya tensi antara Amerika Serikat dan Iran.

Menurut Denny, Presiden Donald Trump saat ini sedang terjebak dalam strategi usang yang tidak lagi mempan menghadapi negara dengan sistem sekuat Iran.

Politik Identitas: Senjata Pamungkas yang Mulai Tumpul

​Denny menyoroti kemiripan gaya politik Trump dengan oknum pejabat di Indonesia, namun dalam skala yang jauh lebih ekstrem. Saat terdesak skandal—seperti dokumen Epstein—Trump dinilai langsung berlindung di balik benteng agama untuk menggalang dukungan kaum konservatif.

​"Narasi perang agama dinaikkan untuk menyerang Iran. Tapi warga Amerika tidak bodoh. Ketika harga bensin melonjak dan bahan pangan naik, narasi agama jadi nggak laku. Perut lapar itu lebih nyata daripada retorika," ujar Denny, dikutip fajar.co.id, dari akun media sosialnya, Minggu (29/3/2026).

​Ia memprediksi Amerika akan segera terbelah. Demonstrasi besar-besaran menentang perang akan disambut oleh demo tandingan dari pendukung fanatik Trump. Kondisi "perang saudara" opini inilah yang justru sangat dinikmati oleh Iran.

​Kesalahan Fatal: Menyamakan Iran dengan Irak dan Venezuela

​Salah satu poin paling tajam dari analisis Denny adalah kegagalan Trump dalam memahami struktur ketahanan sebuah negara. Ia menyebut Amerika sukses menguasai negara-negara seperti Irak, Libya, atau Venezuela karena sistem pemerintahannya yang lemah dan tersentralisasi pada satu sosok.

​"Negara-negara itu, termasuk Indonesia, sangat bergantung pada sosok Presidennya. Begitu Presidennya dihantam, hancur seluruh pertahanannya," tegasnya.

Doktrin Melawan "Setan Besar"

​Denny menjelaskan bahwa sejak revolusi 1979, Iran telah mempersiapkan mental rakyatnya untuk menghadapi hari ini. Selama puluhan tahun, anak-anak di Iran didoktrin bahwa melawan Amerika dan Israel—yang mereka juluki sebagai "Setan"—adalah sebuah kebanggaan dan kehormatan tertinggi.

Read Entire Article
Rakyat news| | | |