FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Ketegangan di kawasan Teluk Persia kembali memanas setelah Iran mengklaim bertanggung jawab atas serangan terhadap dua kapal tanker minyak di perairan Irak. Serangan yang terjadi pada Rabu (11/3/2026) malam itu menewaskan satu awak kapal dan memicu kecaman keras dari otoritas Irak yang menyebut insiden tersebut sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan negara.
Insiden ini langsung menyita perhatian internasional karena terjadi di jalur perairan strategis yang selama ini menjadi salah satu urat nadi distribusi energi dunia. Di tengah tingginya sensitivitas geopolitik kawasan, serangan terhadap kapal tanker minyak bukan hanya berdampak pada aspek keamanan, tetapi juga berpotensi mengguncang stabilitas pasokan energi global.
Dilansir dari CNN International, Kamis (12/3/2026), Direktur Jenderal Perusahaan Pelabuhan Irak, Farhan al-Fartousi, mengonfirmasi bahwa sebanyak 38 awak kapal berhasil diselamatkan dari dua kapal yang menjadi sasaran serangan. Seluruh korban selamat dilaporkan merupakan warga negara asing.
Meski sebagian besar awak berhasil dievakuasi, satu orang dilaporkan meninggal dunia akibat serangan tersebut. Hingga kini, identitas korban tewas belum dirinci lebih lanjut dalam laporan awal yang beredar.
Iran secara terbuka mengklaim bertanggung jawab atas serangan itu. Laporan stasiun penyiaran Iran, IRIB, menyebut serangan dilakukan menggunakan drone bawah laut yang meledakkan dua kapal tanker minyak di Teluk Persia pada Rabu malam. Klaim tersebut menandai eskalasi serius karena Teheran tidak hanya dituding, tetapi juga secara eksplisit mengakui operasi yang menyasar aset sipil di wilayah perairan negara lain.

















































