FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS), Anthony Budiawan, kembali mengingatkan potensi tekanan besar terhadap nilai tukar rupiah di tengah memanasnya konflik di Iran.
Ia menegaskan, narasi bahwa fundamental ekonomi Indonesia kuat justru membuat pemerintah terlena, padahal kondisi sebenarnya rapuh.
Dikatakan Anthony, klaim cadangan devisa besar dan struktur utang yang dianggap aman tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi riil perekonomian nasional.
Narasi Ekonomi Kuat Meninabobokan
Anthony melihat bahwa Indonesia selama ini terpengaruh oleh narasi bahwa ekonomi nasional berada dalam kondisi aman.
“Indonesia terlena atau tepatnya, diterlena oleh narasi bahwa ekonomi Indonesia kuat, cadangan devisa besar, mencapai lebih dari 150 miliar dolar AS, dan struktur utang aman karena didominasi tenor jangka panjang,” ujar Anthony kepada fajar.co.id, Senin (23/3/2026).
Dengan narasi tersebut, Indonesia disebut berada dalam posisi lebih aman dibandingkan sebelum krisis 1997. Namun, Anthony menilai kondisi itu tidak sepenuhnya sesuai fakta.
“Masalahnya, pernyataan tersebut tidak sepenuhnya sesuai dengan fakta. Fundamental ekonomi baik fiskal, moneter, dan nilai tukar sebenarnya sangat lemah, kalau tidak mau disebut rapuh,” sebutnya.
Konflik Iran Jadi Pemicu Baru
Dijelaskan Anthony, konflik geopolitik di Iran berpotensi memperparah kerentanan ekonomi Indonesia. Gangguan pasokan energi global disebut dapat berdampak luas.
“Cadangan devisa Indonesia besar dalam angka, tetapi terisi gelembung akumulasi utang luar negeri, terutama oleh pemerintah dan Bank Indonesia,” tegasnya.
















































