Chatib Basri
FAJAR.CO.ID - Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memperingatkan bahwa krisis energi global yang diprediksi terjadi pada tahun 2026 sudah mulai memberikan dampak nyata terhadap perekonomian berbagai negara, termasuk Indonesia. Ia menekankan pentingnya kebijakan yang cepat, tepat sasaran, dan terkoordinasi untuk menghadapi gejolak harga minyak, gas, dan bahan bakar minyak (BBM) yang fluktuatif.
Dalam unggahannya dari Singapura pada Rabu (25/3/2026), SBY menjelaskan bahwa lonjakan harga energi bukan hanya masalah domestik, melainkan fenomena global yang mempengaruhi defisit anggaran negara, inflasi, stabilitas ekonomi, hingga daya beli masyarakat.
Pengalaman Krisis Energi Sebelumnya Jadi Pelajaran Berharga
SBY mengingatkan masyarakat dan pemerintah tentang krisis energi yang pernah melanda Indonesia pada periode 2004-2005, 2008, dan 2013 saat dirinya menjabat sebagai Presiden. Pada masa itu, pemerintah harus mengambil keputusan sulit seperti menaikkan harga BBM yang menimbulkan pro dan kontra keras di parlemen serta unjuk rasa di berbagai daerah.
Gelombang pro dan kontra tinggi sekali. Parlemen gaduh dan unjuk rasa tak terhindarkan. Tapi akhirnya ekonomi kita selamat, jelasnya.
Kebijakan tersebut diikuti dengan perlindungan sosial berupa bantuan langsung tunai (BLT) yang menjadi kunci menjaga stabilitas sosial dan ekonomi masyarakat berpenghasilan rendah.
Respons Cepat Negara Lain dan Dukungan untuk Pemerintah Saat Ini
SBY juga menyoroti langkah cepat yang diambil oleh beberapa negara seperti Filipina dan Korea Selatan dalam menghadapi krisis energi global. Ia menilai kebijakan mereka masuk akal dan efektif dalam menyelamatkan ekonomi masing-masing.

















































