Mantan Presidn RI, Joko Widodo
FAJAR.CO.ID, JAKARTA -- Budayawan, Mohamad Sobary, menyebut bahwa situasi sosial-politik saat ini menunjukkan tanda-tanda menuju perubahan besar.
Ia melihat kondisi tersebut sebagai “goro-goro”, istilah dalam sastra Jawa yang menggambarkan fase keguncangan sebelum perubahan zaman.
Dikatakan Sobary, dorongan masyarakat terhadap keterbukaan menjadi sinyal kuat bahwa dinamika baru sedang terbentuk.
"Ini momen bakal terjadinya suatu perubahan," ujar Sobary dikutip fajar.co.id, Senin (23/3/2026).
Goro-goro Disebut Sudah Dekat
Sobary menegaskan, istilah goro-goro dalam tradisi Jawa merujuk pada masa peralihan yang biasanya ditandai dengan kegaduhan sosial dan tuntutan perubahan.
"Nah, saya sudah agak berkali-kali mengatakan ini bakal terjadi suatu goro-goro. Itu dalam sastra Jawa ya, goro-goro," sebutnya.
Ia menilai gejala tersebut mulai terlihat dari meningkatnya suara publik yang menuntut keterbukaan.
"Itu tanda akan terjadinya perubahan aturan dan perubahan zaman," lanjutnya.
Sobary bahkan menegaskan bahwa fase tersebut dinilai semakin mendekat.
"Nah, goro-goro itu keliatannya sudah agak dekat. Keliatannya sudah agak dekat," ucapnya.
Tuntutan Keterbukaan Menguat
Lanjut Sobary, sejumlah elemen masyarakat kini mulai berbicara lebih terbuka dan langsung pada inti persoalan. Hal ini, kata dia, menjadi indikator perubahan.
"Barangkali sama, kerasnya, sama to the point-nya, tidak basa-basi," Sobary menuturkan.
Ia juga menekankan bahwa ada dorongan kuat agar berbagai hal yang selama ini dianggap tertutup mulai dibuka ke publik.
















































