Heru Subagia Mendadak Bicara Esemka Era Jokowi dan Maung Besutan Prabowo: Dua-duanya Pembohong

8 hours ago 13
Kolase foto mobil maung garuda besutan Prabowo dan Esemka yang jadi jualan kampanye Jokowi. (INT)

FAJAR.CO.ID, JAKARTA -- Pengamat politik dan ekonomi, Heru Subagia, turut bicara mengenai rencana pengadaan 105 ribu unit pickup dan truk impor untuk operasional Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP).

Heru menegaskan, dirinya bukan orang baru di sektor otomotif. Ia mengaku pernah menghabiskan hampir sebelas tahun bekerja di pabrikan otomotif nasional.

“Saya punya history, pernah kerja di pabrikan otomotif nasional, di situ saya hampir menghabiskan waktu nyaris sebelas tahun,” ujar Heru kepada fajar.co.id, Sabtu (21/2/2026).

Dengan latar belakang tersebut, ia mengklaim memahami betul dinamika industri otomotif nasional, termasuk aspek politik dan ekonomi yang menyertainya.

“Jadi saya memahami kondisi industri otomotif nasional dan perkembangannya, termasuk politik, ekonomi, dan isu krusial yang menyertai bidang otomotif nasional,” lanjutnya.

Soroti Keputusan Impor 105 Ribu Unit

Heru menganggap keputusan pemerintah mengimpor 105 ribu kendaraan niaga bukan semata pertimbangan ekonomi.

“Jadi ketika pemerintah sudah memutuskan mengimpor 105 ribu pickup dan truk, tentu ini adalah keputusan politik,” tegasnya.

“(Bukan) Keputusan ekonomi dan yang lebih proporsional karena ada beberapa alasan teknis,” sambung Heru.

Ia kemudian membeberkan sejumlah catatan teknis. Menurutnya, kendaraan operasional desa tentu membutuhkan dukungan purna jual yang kuat.

“Pertama, pickup dan armada truk yang nantinya dipakai itu fungsinya untuk operasional. Secara teknis akan dibutuhkan perawatan rutinnya,” jelasnya.

Heru mempertanyakan kesiapan jaringan after sales jika kendaraan didatangkan dari India.

“Pertanyaannya, apakah sudah ada dealer pabrikan India di Indonesia yang sudah berkomitmen membackup after sale service, atau pelayanan purna jual,” ucapnya.

Selain itu, ia menyoroti ketersediaan suku cadang dan jaminan garansi.

“Kedua, berkaitan ketersediaan suku cadang dan garansi produk itu sendiri. Operasional kendaraan tentunya mobilitasnya tinggi dibandingkan mobil pribadi. Ini persoalan bagaimana kiranya ketika kendaraan ini perlu diservis dan juga melakukan perawatan rutin,” cetusnya.

Penjualan Pickup Anjlok

Heru juga menyinggung kondisi pasar otomotif nasional. Ia mengaku mendapat informasi dari jaringan pembiayaan otomotif.

“Kemudian ini masalah isu strategis nasional, barusan saya mendapat kabar dari teman selaku ketua Toyota Astra Finance, lembaga leasing resmi pickup merk Toyota, menyatakan per hari ini untuk di wilayah Cirebon, terjadi penurunan penjualan yang cukup signifikan,” katanya.

Ia bahkan mengklaim data di Jawa Barat menunjukkan penurunan drastis.

“Dari data yang saya lihat, rata-rata di wilayah Jawa Barat khusus grup Astra, produk pickup mengalami penjualan yang anjlok. Nyaris 55-60 persen,” sebutnya.

Kata Heru, kondisi itu justru membantah anggapan bahwa pengadaan kendaraan Kopdes akan mengganggu pasar nasional.

“Dampaknya apa? Dengan adanya penurunan penjualan, ini adalah fakta yang cukup miris bagaimana perusahaan yang sudah stabil ditinggalkan marketnya justru saya tidak setuju ketika jumlah produk pickup diambil alih Kopdes akan mengganggu pasar nasional, ini saya pikir statement yang mengada-ada,” tegasnya.

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:

Read Entire Article
Rakyat news| | | |