Shamsi Ali
FAJAR.CO.ID, NEW YORK – Tokoh Muslim global sekaligus Imam di New York, Imam Shamsi Ali, melontarkan kritik tajam terhadap konstelasi politik Timur Tengah saat ini.
Ia menyebut serangan Israel ke Iran yang didukung penuh oleh Amerika Serikat sebagai bagian dari skenario besar mewujudkan ambisi "Israel Raya" sekaligus bentuk kegagalan kolektif dunia Islam.
Kritik Pedas Terhadap "Dewan Perdamaian"
Shamsi Ali menyatakan keprihatinannya terhadap sikap para pemimpin dunia Islam yang dianggapnya apatis dan mengecewakan. Salah satu yang disorot tajam adalah pembentukan Board of Peace (BOP) atau Dewan Perdamaian yang didukung sejumlah negara Muslim.
"Realitanya, BOP ini mati suri di jalan. Alih-alih menjadi solusi bagi Gaza dan Palestina, kekerasan justru terus meningkat. Bahkan, Masjid Al-Aqsa ditutup selama Ramadan sementara anggota BOP dari dunia Islam tak mampu berbuat apa-apa, seolah terbelenggu tak berdaya," ujar Imam Shamsi Ali melalui pernyataan tertulisnya kepada fajar.co.id, Selasa malam (24/3/2026).
Tragedi Iran dan Agenda Tersembunyi
Menanggapi serangan Israel ke Iran yang menewaskan ratusan warga sipil serta pemimpin tertinggi Ali Khamenei dan Ali Larijani, Shamsi Ali menilai alasan nuklir hanyalah kedok.
Menurutnya, ada beberapa motif krusial di balik serangan unilateral tersebut:
- Ekspansi Israel Raya: Upaya mendirikan The Kingdom of David di Yerusalem.
- Penghancuran Al-Aqsa: Menghilangkan eksistensi Masjid Al-Aqsa untuk membangun kembali The Temple of Solomon.
- Penguasaan Sumber Daya: Mengontrol kekayaan alam Iran sebagai produsen minyak papan atas dunia.
- Blokade Geopolitik: Memutus pengaruh Tiongkok dan Rusia di kawasan Timur Tengah.
"Serangan ini adalah cara memastikan jalan bagi ekspansi Zionis. Iran dipandang sebagai ancaman terbesar yang harus dilemahkan agar rencana besar mereka di Gaza dan Al-Aqsa tidak terdeteksi," tegasnya.
Ilusi Harapan pada Kekuatan Luar
Imam Shamsi Ali mengingatkan umat Islam agar tidak menggantungkan harapan kemerdekaan Palestina pada belas kasihan negara-negara Barat. Ia menyebut mimpi bahwa Amerika Serikat akan memberikan jalan kemerdekaan bagi Palestina sebagai hal yang "menggelikan."
"Amerika dan Israel tidak punya niat baik untuk kemerdekaan Palestina. Dunia Islam saja yang sedang larut dalam mimpi indahnya," tambahnya.

















































