Ilustrasi mobil pikap India
FAJAR.CO.ID, JAKARTA -- Pegiat media sosial, Yusuf Dumdum, ikut bicara terkait rencana impor 105.000 unit kendaraan pikap dari India untuk mendukung program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (Kopdes/KDKMP).
Koperasi Merah Putih Belum Jalan
Ia mengaku heran dengan langkah tersebut, mengingat program Kopdes Merah Putih belum berjalan sepenuhnya dan belum terlihat proyeksi keuntungan yang jelas.
“Gue masih gak habis pikir. Kok bisa kopdes merah putih belum jalan dan belum thu keuntungannya seperti apa, tapi sudh berani impor 105.000 mobil dari India,” ujar Yusuf dikutip fajar.co.id, Kamis (26/2/2026).
Bukan hanya soal kesiapan program, Yusuf juga mempertanyakan sumber pendanaan pengadaan ratusan ribu kendaraan tersebut.
Ia menyebut pembiayaan dilakukan melalui skema utang dari Bank Himbara.
“Terus dananya dari mana? Ternyata dananya dari utang melalui Bank Himbara, dengan cicilan mencapai Rp40 triliun per tahun selama 6 tahun (total sekitar Rp 240 triliun),” sebutnya.
Dianggap Bisa Timbulkan Persoalan Baru
Dikatakan Yusuf, skema pembiayaan dengan nilai fantastis itu berpotensi menimbulkan persoalan baru jika tidak dikelola secara transparan dan profesional.
Ia pun menyinggung kondisi sejumlah BUMN yang dinilai mengalami kerugian akibat tata kelola yang buruk.
“Pantesan banyak BUMN yg bobrok merugi, lha cara kelolanya barbar. Kita lihat saja gimana Kopdes Merah putih nanti,” tandasnya.
Sebelumnya diberitakan, Sekretaris Jenderal IATO, Hari Budianto, mengatakan bahwa anggapan bahwa produksi nasional tidak mencukupi sebagai kekeliruan data.















































