Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu
FAJAR.CO.ID - Pernyataan kontroversial Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang membandingkan Yesus Kristus dengan Genghis Khan memicu kecaman keras, terutama dari Iran yang menilai pernyataan itu sebagai penghinaan serius.
Kecaman dari Iran dan Publik Internasional
Pernyataan Netanyahu yang disiarkan melalui pidato televisi pada Kamis malam, 19 Maret 2026, menyatakan bahwa "Yesus Kristus tidak memiliki keunggulan apapun atas Genghis Khan, karena jika Anda cukup kuat, cukup kejam, cukup berkuasa, kejahatan akan mengalahkan kebaikan." Kalimat tersebut kemudian viral dan menimbulkan gelombang kritik dari berbagai kalangan.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengecam keras pernyataan tersebut melalui akun X pribadinya pada Senin, 23 Maret 2026. Ia menegaskan bahwa bagi seseorang yang sangat bergantung pada itikad baik umat Kristen di Amerika Serikat, penghinaan terbuka terhadap Yesus Kristus sangat mencolok.
"Bagi seseorang yang sangat bergantung pada itikad baik umat Kristen di Amerika Serikat, penghinaan terbuka terhadap Yesus Kristus sangat mencolok," katanya.
Lebih lanjut, Araghchi mengecam pujian tanpa batas Netanyahu terhadap Genghis Khan, yang ia gambarkan sebagai salah satu tokoh paling kejam dalam sejarah. Ia juga menilai bahwa pernyataan tersebut sejalan dengan citra Netanyahu sebagai penjahat perang yang paling dicari.
Klarifikasi Netanyahu dan Penjelasan Konteks Pernyataan
Sebagai respons atas kontroversi yang berkembang, Netanyahu memberikan klarifikasi melalui media sosial sehari setelah pernyataannya viral. Ia membantah keras bahwa dirinya bermaksud menghina Yesus Kristus.
















































