Tangkapan layar - Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan INDEF M Rizal Taufikurahman. (ANTARA/Uyu Septiyati Liman.)
FAJAR.CO.ID, JAKARTA - Pemerintah Indonesia kembali menambah penempatan Saldo Anggaran Lebih (SAL) sebesar Rp100 triliun ke perbankan untuk menjaga likuiditas sistem keuangan di tengah potensi peningkatan kebutuhan dana dan tekanan pasar yang terlihat dari kenaikan imbal hasil obligasi.
Menteri Keuangan RI, Purbaya Yudhi Sadewa, menegaskan bahwa penambahan dana ini merupakan langkah serius untuk menjaga likuiditas di sistem keuangan dengan total penempatan SAL yang sudah mencapai sekitar Rp300 triliun.
"Seminggu sebelum Lebaran, saya tambah lagi Rp100 triliun, memasukkan ke sistem perekonomian. Kita jaga likuiditas di sistem keuangan dengan serius," katanya di Jakarta, Rabu (25/3).
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M Rizal Taufikurahman, menjelaskan bahwa tambahan injeksi SAL Rp100 triliun ke perbankan memang akan memperkuat likuiditas dan menurunkan tekanan biaya dana sehingga ruang kredit menjadi lebih longgar.
Namun, Rizal menegaskan bahwa efektivitas kebijakan tersebut sangat bergantung pada permintaan kredit yang saat ini masih lemah karena kondisi konsumsi yang melemah dan ekspektasi ekonomi yang belum kuat.
"Tanpa dukungan kebijakan lain seperti kredit terarah dan stimulus fiskal langsung dana berisiko mengendap atau beralih ke instrumen keuangan, sehingga dampaknya ke konsumsi dan pertumbuhan menjadi terbatas," katanya.
Rizal menambahkan bahwa rumah tangga cenderung masih menahan belanja dan meningkatkan tabungan sebagai bentuk precautionary saving, sehingga transmisi dari likuiditas ke kredit dan konsumsi menjadi relatif terhambat.

















































