Jepang, China hingga India sudah Siap, Bagaimana Indonesia Hadapi Ketegangan dengan Situasi Minyak Sisa 20 Hari?

7 hours ago 6

FAJAR.CO.ID - Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang menyebabkan penutupan Selat Hormuz telah memicu lonjakan harga minyak dunia, menimbulkan kekhawatiran besar bagi negara-negara yang sangat bergantung pada pasokan minyak, termasuk Indonesia. Situasi ini memaksa banyak negara bersiap menghadapi dampak jangka panjang dari krisis energi global yang semakin memburuk.

Harga Minyak Dunia Melonjak Akibat Penutupan Selat Hormuz

Akademisi dan pakar manajemen terkemuka Indonesia, Rhenald Kasali, menegaskan bahwa penutupan Selat Hormuz oleh pejabat tinggi Iran menjadi titik kritis yang memicu kenaikan harga minyak dunia. Selat ini merupakan jalur utama pengiriman minyak bagi hampir seluruh negara di dunia, sehingga penutupan jalur tersebut berdampak luas dan sudah mulai dirasakan dalam beberapa hari terakhir.

"Perang Iran sepertinya tidak akan berhenti dalam waktu dekat, Selat Hormuz sudah ditutup dan para pejabat tinggi di Iran mengatakan akan menghentikan semua kapal yang lewat," katanya dalam unggahan reels Instagram pribadinya pada Kamis (5/3).

Rhenald mengungkapkan bahwa harga minyak yang pada awal tahun 2026 berada di kisaran 60 dollar per barel kini telah melonjak hingga mencapai 82 dollar per barel, dan potensi kenaikan harga masih terbuka lebar jika ketegangan terus berlanjut.

"Kalau perang berkepanjangan dan kita semakin repot, selain harga minyak yang semakin tinggi, jalurnya juga semakin jauh," jelasnya.

Negara Besar Sudah Siapkan Cadangan, Indonesia Masih Rentan

Lebih lanjut, Rhenald menyoroti kesiapan negara-negara besar seperti Jepang, India, dan China dalam menghadapi krisis minyak ini. Jepang, misalnya, memiliki cadangan minyak yang cukup untuk hampir setahun, sedangkan India dan China juga memiliki persediaan yang panjang serta jalur pasokan alternatif, termasuk pipa dari Rusia.

Read Entire Article
Rakyat news| | | |