Dr Iqbal Mochtar (Pengurus PB IDI dan Ketua Forum Dokter Peduli Ketahanan Kesehatan Bangsa)
Oleh: Dr Iqbal Mochtar (Pengurus PB IDI dan Ketua Forum Dokter Peduli Ketahanan Kesehatan Bangsa)
Berkali-kali hidup di tengah konflik, satu hal jadi makin jelas: wajah perang itu berubah.
Sekarang saya berada disebuah negara yang terimbas langsung perang Iran-Amerika/Israel. Dan lagi-lagi, realitasnya tidak seperti yang sering kita bayangkan dalam perang masa lalu.
Tidak ada barisan panjang tentara berlari di medan tempur. Tidak ada suara sepatu menghantam tanah secara serempak. Tidak ada tentara saling baku tembak didarat.
Yang ada: senyap.Lalu tiba-tiba—booommm…ledakan. Bangunan langsung hancur, luluh lantak.
Perang hari ini tidak lagi sangat bergantung pada jumlah ground soldier dilapangan. Ia bergeser ke presisi dan teknologi.
Rudal dan missil ditembakkan dari ribuan kilometer, melesat dengan kecepatan tinggi, dan menghantam target dengan akurasi yang nyaris sempurna. Dalam hitungan menit, ribuan kilometer.
Ini bukan lagi soal siapa paling banyak tentara. Ini soal siapa paling siap dengan teknologi perang. Ini tentang kecanggihan teknologi dengan tingkat penghancuran yang dahsyat dan keakuratan yang sangat-sangat tinggi.
Dan entah kenapa, pikiran saya langsung lompat ke Indonesia. Negeri saya.
Kalau—dan ini pertanyaan yang tidak nyaman—tiba-tiba kita diserang besok pagi, apa kita siap?
Kalau tiba-tiba ada negara lain yang langsung merudal kita bertubi-tubi besok pagi, seberapa siap kita meresponnya dan melindungi 288 juta penduduk Indonesia?
Apakah kita punya sistem pertahanan udara berlapis yang benar-benar siap pakai, mampu melacak dalam hitungan detik rudal yang ditembakkan dari jauh? Apa kita punya sistem pertahanan canggih; bukan sekadar ada di atas kertas?

















































