Oleh: Andi Muhammad Jufri, Praktisi Pembangunan Sosial
Hai apa kabar semua ? sungguh senang pulang ke kampung kelahiran buyut, eyang, kakek, nenek, ayah, ibu, atau kita sendiri. Ada kerinduan ingin kunjung ke kampung asal keluarga. Ada imajinasi, alasan dan dorongan setiap diri, ingin segera melihat, merasakan dan berada di kampung asal keluarga.
Di sana, ada muka yang penuh senyum dan tawa. Ada makanan khas yang enak. Ada panorama lingkungan yang indah. Atau minimal lingkungan berbeda yang selama ini, kita tempati. Paling seru, adalah perjalanan yang penuh semangat. Kemacetan tidak terasa, karena setiap yang ada dalam kendaraan baik bermotor atau naik mobil, bis, kereta api, pesawat, kapal pelni, perahu, mikrolet, memperlihatkan wajah kegembiraan, wajah ceriah, wajah yang sama-sama rindu ingin sampai ditujuan.
Jadilah perjalanan menuju kampung menjadi mengasyikan. Candu perjalanan itu, menjadi bagian yang mengobati rutinitas yang mungkin membuat pikiran lelah dan berat selama ini Sepanjang perjalanan, pikiran terbang ke situasi paling awal. Masa kecil, masa indah, masa kita tumbuh. Rekaman kehidupan masing-masing terputar. Ada kesedihan, ada kegembiraan. Ada kegagalan, ada keberhasilan. Seiring perjalanan itu, memori hidup berputar, mengaduk jiwa dan pikiran, dan air mata tak terasa meleleh.
Proses putaran emosional dari memori perjalanan hidup ini, membawa kita kepada kesadaran untuk introspeksi atau evaluasi diri. Dulu di mana ? sekarang di mana ? gab diantaranya akan menjadi pembelajaran yang luar biasa dalam hidup kita.

















































