Oleh: Ridwan al-Makassary*
Empat pekan dunia telah dan sedang disuguhi pelbagai berita perang antara Israel-AS dan Iran yang ambivalen. Di satu sisi, deru pesawat-pesawat jet tempur melintasi langit Teluk dengan suara sonic boom yang menggetarkan jendela-jendela rumah di Teheran, Beirut, hingga Kuwait.
Di sisi lain, para pemimpin negara adidaya dan sekutunya saling melontarkan narasi kemenangan, meski tanah Iran semakin hangus terbakar dan rakyat biasa semakin terseret ke dalam jurang ketidakpastian dan kemeranaan.
Mari berhenti sejenak dari hiruk-pikuk perang tentang peralatan tempur siapa yang paling unggul di udara, berapa jumlah rudal yang berhasil dicegat, atau berapa personil militer musuh yang telah gugur berkalang tanah. Lantaran, seperti kata seorang ahli anonim, “Mereka yang sibuk menghitung peluru biasanya lupa menghitung mayat”.
Karenanya, yang terjadi di Iran hari ini bukan lagi sekadar perang. Namun, ia adalah kebuntuan-kebuntuan besar Israel-AS, yang dibungkus narasi kemenangan yang membius untuk meredakan kepanikan pasar dan menenangkan amarah domestik. Tulisan ini akan menjelaskan beberapa kebuntuan dan narasi kemenangan prematur Israel-AS tersebut.
Kebuntuan pertama, kegagalan decapitation strike, yaitu serangan pemenggalan rejim. Akhir Februari 2026 lalu, Israel-AS telah melancarkan serangan mematikan, yang disebut sebagai serangan “pembelaan diri”.
Sebagai satu hasil, gedung dan kediaman Sang Rahbar (Pemimpin Tertinggi) Ayatullah Ali Khamenei dihujani tak kurang dari 30 bom sehingga Sang Rahbar dan sejumlah anggota keluarga dan tokoh kunci lainnya gugur bersamanya.
















































