Ilustrasi Rupiah
FAJAR.CO.ID, JAKARTA -- Mantan Staf Khusus Menteri Keuangan, Prastowo Yustinus, ikut bicara perkembangan ekonomi global di tengah meningkatnya ketegangan konflik di Timur Tengah yang melibatkan Israel, Amerika Serikat, dan Iran.
Prastowo mempertanyakan kabar yang beredar mengenai lonjakan nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap rupiah serta kenaikan tajam harga minyak dunia.
Pertanyakan Kabar Lonjakan Dolar dan Harga Minyak
Prastowo mengaku mendengar informasi bahwa kurs dolar AS telah menembus angka Rp17 ribu dan harga minyak dunia melampaui USD100 per barel.
“Apakah benar pagi ini USD tembus Rp17 ribu dan harga minyak dunia tembus USD 100 per barrel?," ujar Prastowo dikutip fajar.co.id (9/3/2026).
Data pasar menunjukkan rupiah memang sempat melemah hingga menyentuh sekitar Rp17.001 per dolar AS pada perdagangan pagi, seiring meningkatnya sentimen risiko global akibat lonjakan harga minyak mentah. ([Liputan6][1])
Dampak Ketegangan Global
Tekanan terhadap rupiah terjadi di tengah lonjakan harga minyak mentah yang telah menembus USD100 per barel.
Kondisi ini memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi inflasi global serta dampaknya terhadap ekonomi negara-negara pengimpor energi seperti Indonesia.
Secara global, kenaikan harga minyak dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang menimbulkan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi dunia.
Ingatkan Perlu Kewaspadaan
Melihat perkembangan tersebut, Prastowo menilai kondisi ini perlu diwaspadai oleh semua pihak.
“Jika iya, tampaknya perlu sangat waspada,” Prastowo menuturkan.

















































