Selat Hormuz
FAJAR.CO.ID, JAKARTA -- Ketegangan geopolitik di Timur Tengah memasuki babak yang semakin mengkhawatirkan. Krisis di Selat Hormuz kini tak sekadar konflik militer, tetapi mulai menjelma menjadi ancaman serius bagi stabilitas energi dan ekonomi global.
Situasi memanas setelah serangan militer Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada akhir Februari lalu, yang memicu aksi balasan dan berujung pada lumpuhnya jalur pelayaran vital dunia tersebut.
Serangan Berbalas, Selat Hormuz Lumpuh
Serangan yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari lalu menyebabkan kerusakan serta korban sipil di Teheran.
Iran kemudian merespons dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer AS di kawasan Timur Tengah.
Eskalasi ini berdampak langsung pada aktivitas di Selat Hormuz yang kini praktis terhenti.
Sebagai jalur utama distribusi minyak dan gas alam cair dari negara-negara Teluk Persia, gangguan di selat ini langsung mengguncang pasar energi global.
Bos Migas Dunia Angkat Suara
Sejumlah petinggi perusahaan energi dunia memperingatkan dampak serius dari situasi ini.
CEO Darren Woods, CEO Mike Wirth, dan CEO Ryan Lance menilai terganggunya jalur pengiriman akan terus memicu ketidakstabilan global.
Mereka mengingatkan bahwa krisis ini tidak hanya berdampak jangka pendek, tetapi bisa menyeret pasar energi ke dalam ketidakpastian berkepanjangan.
Trump Tekan Sekutu Kirim Kapal Perang
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, berupaya menggalang dukungan internasional untuk membuka kembali jalur tersebut.

















































