Dr. Eng. Ir. Hendra Pachri, S.T., M.Eng,
Ketua Departemen Teknik Geologi
Universitas Hasanuddin
Oleh: Dr. Eng. Ir. Hendra Pachri, S.T., M.Eng
Ketua Departemen Teknik Geologi
Universitas Hasanuddin
Beberapa waktu terakhir, berita tentang banjir dan longsor kembali mengisi ruang publik. Di Sulawesi Selatan, peristiwa di Luwu menyisakan duka yang tidak sedikit. Rumah-rumah rusak, akses terputus, dan kehidupan masyarakat terganggu. Namun di balik itu semua, ada satu hal yang terasa lebih mengganggu: kejadian seperti ini bukan yang pertama, dan kemungkinan besar bukan yang terakhir. Kita sering menyebutnya sebagai bencana alam. Sebuah istilah yang terasa netral, bahkan cenderung menenangkan. Seolah-olah apa yang terjadi berada di luar kendali kita. Tetapi, jika kita berhenti sejenak dan melihat lebih dalam, mungkin kita perlu lebih jujur: apakah benar semua ini sepenuhnya urusan alam?
Indonesia memang tidak hidup di ruang yang “aman” secara geologi. Kita berada di pertemuan tiga lempeng besar dunia—Lempeng Indo-Australia, Lempeng Eurasia, dan Lempeng Pasifik. Dari sudut pandang ilmu kebumian, gempa, erupsi gunung api, hingga gerakan tanah adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. Tetapi yang sering luput dari perhatian kita adalah ini: yang tidak bisa dihindari adalah kejadiannya, bukan dampaknya. Selama bertahun-tahun, para peneliti telah memetakan risiko-risiko tersebut. Zona rawan gempa sudah diketahui. Wilayah dengan potensi longsor telah diidentifikasi. Kawasan yang rentan banjir telah dianalisis melalui berbagai pendekatan ilmiah. Bahkan hari ini, dengan dukungan teknologi, risiko bisa dipetakan dengan tingkat ketelitian yang semakin baik.


















































