Said Didu
Fajar.co.id – Keputusan Malaysia untuk mundur dari perjanjian perdagangan dengan Amerika Serikat menjadi sorotan publik. Langkah tersebut memicu berbagai reaksi, termasuk dari mantan Sekretaris Kementerian BUMN, Muhammad Said Didu, yang menilai Indonesia seharusnya bisa mengambil sikap lebih berani.
Melalui unggahannya di media sosial, Said Didu menyampaikan pandangannya terkait keputusan Malaysia tersebut. Ia menyebut langkah negara tetangga itu sebagai contoh keberanian dalam menentukan kebijakan ekonomi dan perdagangan internasional.
“Harusnya Indonesia lebih berani dari Malaysia,” tulis Said Didu dalam unggahan di X, Selasa, (17/3/2026).
Unggahan tersebut juga menyertakan tautan berita yang menyebut Malaysia menjadi negara pertama di dunia yang mundur dari perjanjian perdagangan dengan Amerika Serikat. Informasi ini pun langsung memicu diskusi luas di media sosial.
Keputusan Malaysia Jadi Perbincangan
Langkah Malaysia untuk menarik diri dari perjanjian perdagangan dengan Amerika Serikat dinilai sebagai keputusan besar dalam hubungan ekonomi internasional.
Perjanjian perdagangan antara negara biasanya mencakup berbagai aspek penting, seperti penurunan tarif, kemudahan investasi, hingga akses pasar bagi produk ekspor. Kesepakatan tersebut sering kali memberikan keuntungan bagi kedua pihak, tetapi juga dapat memunculkan tantangan bagi industri domestik.
Karena itu, ketika sebuah negara memutuskan mundur dari perjanjian semacam ini, keputusan tersebut biasanya didasarkan pada pertimbangan ekonomi dan politik yang cukup matang.

















































