Membaca Makassar, Refleksi Setahun Kepemimpinan Appi-Aliyah

1 week ago 26
Appi-Aliyah

Oleh: Asratillah
(Wakil Ketua Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik Muhammadiyah Sulsel)

Sebuah kota, jika kita memandangnya dengan mata seorang penyair, bukanlah sekadar tumpukan beton yang kaku atau jalinan aspal yang membelah rawa. Ia adalah sebuah teks yang terus ditulis, sebuah "ruang hidup" tempat emosi, ekonomi, dan politik warga saling berkelindan tanpa henti.

Di Makassar, satu tahun kepemimpinan pasangan Munafri Arifuddin dan Aliyah Mustika Ilham adalah sebuah fragmen pendek dari narasi panjang menuju "Indonesia Emas 2045".

Kita melihat kota ini sedang mencoba beralih rupa, dari sekadar mesin pertumbuhan ekonomi menjadi sebuah organisme yang mencoba menata ulang kualitas hidup warganya secara lebih sistemik. Namun, di balik angka-angka yang gemerlap, selalu ada retakan yang mengingatkan kita bahwa membangun kota adalah kerja yang tak pernah selesai.

Gemerlap Angka dan Janji Inklusivitas
Di sebuah galeri yang bernama statistik, Makassar setahun terakhir memajang lukisan-lukisan yang gemerlap, seolah hendak membuktikan bahwa kemajuan bukanlah sekadar ilusi bagi kota di tepian Selat Makassar ini.

Denyut nadi ekonomi yang berdetak di angka 5,56 persen pada tahun 2024 bukan hanya prestasi di atas kertas, melainkan manifestasi dari mesin produksi yang terus menderu di berbagai sektor, menempatkan kota ini sebagai motor utama yang menggerakkan hampir separuh dari total Produk Domestik Regional Bruto Provinsi Sulawesi Selatan.

Jika kita menengok lebih dalam ke ruang-ruang kehidupan personal warganya, angka PDRB per kapita yang melonjak dari Rp 125,32 juta pada tahun 2020 menjadi Rp 165,95 juta di tahun 2024 menunjukkan adanya akumulasi nilai tambah yang menakjubkan bagi sebuah kota metropolitan.

Gemerlap ini kian benderang dengan hadirnya sektor Perdagangan Besar dan Eceran serta Industri Pengolahan yang secara kokoh menyumbang porsi dominan terhadap struktur ekonomi kota, masing-masing sebesar 20,03 persen dan 19,00 persen.

Namun, di balik angka-angka makro yang superior ini, terdapat sebuah janji yang lebih fundamental, yakni janji tentang inklusivitas yang ingin memastikan bahwa setiap warga, tanpa kecuali, dapat mencicipi manisnya pertumbuhan tersebut.

Inilah yang barangkali dapat kita sebut sebagai "permata" dalam narasi pembangunan Makassar, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang mencapai 85,56 pada tahun 2025. Angka ini mengangkat Makassar ke kategori "Sangat Tinggi" menurut standar dunia, sebuah pencapaian yang melampaui rata-rata nasional dan provinsi, sekaligus menegaskan bahwa investasi pada manusia (pada kesehatan, pendidikan, dan daya beli) telah menjadi prioritas yang tak bisa ditawar.

Usia Harapan Hidup yang menyentuh 75,33 tahun dan Harapan Lama Sekolah sebesar 15,62 tahun adalah bukti otentik bahwa akses terhadap kualitas hidup yang lebih baik telah menjadi hak yang kian nyata bagi penduduknya.

Standar hidup layak yang diukur melalui paritas daya beli pun terus merangkak naik hingga mencapai Rp 18,386 juta per kapita per tahun, memberikan gambaran tentang kemandirian ekonomi yang kian mengakar di tingkat rumah tangga.

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:

Read Entire Article
Rakyat news| | | |