Menguatkan Identitas dan Solidaritas Diaspora Mandar Lewat Dialog Ramadhan Internasional

9 hours ago 9
Para diaspora yang jadi pembicara. (IST)

FAJAR.CO.ID - Webinar Dialog Ramadhan Diaspora yang digelar oleh BPP-KWMSB menghadirkan diskusi mendalam tentang keberagaman pengalaman berpuasa dan praktik keislaman di berbagai negara. Kegiatan ini menjadi ruang refleksi penting bagi diaspora Mandar untuk memperkuat identitas, solidaritas, serta jejaring di panggung global.

Dialog Ramadhan sebagai Ruang Berbagi Pengalaman Keislaman Global

Ketua Umum KKMSB, Dr. Muhammad Zain, membuka acara dengan menekankan pentingnya menghidupkan dialog lintas negara selama Ramadhan. Ia menjelaskan bahwa berpuasa di negeri orang membawa tantangan dan kekayaan pengalaman yang berbeda dari Indonesia.

"Ramadhan di negeri orang menghadirkan tantangan dan kekayaan pengalaman yang tidak selalu kita temui di Indonesia," katanya.

Dr. Zain mencontohkan pengalaman berpuasa di Turki dan Australia, di mana umat Muslim harus menahan lapar hingga 16 jam karena durasi siang yang panjang. Ia juga mengangkat tradisi unik di Maroko, seperti membawa alas kaki masuk masjid dan menyimpannya di atas kain panjang di depan saf.

Keberagaman Mazhab dan Tradisi Keilmuan dalam Praktik Keislaman Diaspora

Sukmahadi, yang menempuh studi di Maroko selama tujuh tahun, mengulas kekayaan tradisi intelektual negeri tersebut. Maroko dikenal sebagai tempat berdirinya University of al-Qarawiyyin, universitas tertua di dunia, dengan tradisi bermazhab Maliki yang berbeda dengan mayoritas Syafi'i di Indonesia.

"Di Maroko, orang boleh berwudhu dengan sedikit air dari ember kecil, berbeda dengan praktik di Indonesia yang harus menggunakan air dua kullah," jelasnya.

Yusri Anam yang sedang studi di Turki, kota spiritual Konya, menambahkan bahwa Turki menganut mazhab Hanafiyah yang lebih rasional dan mayoritas penduduknya Muslim. Ia juga menyebut kegemaran masyarakat Turki minum teh sebagai bagian dari budaya lokal.

Read Entire Article
Rakyat news| | | |