Menyongsong Hari Kemenangan

6 hours ago 8

Oleh: Muhammad Tariq, (Ketua FLP Cabang Barru. Pegiat Literasi dan Pemerhati Sosial )

Idulfitri dapat disebut hari raya kemenangan. Pada hari itu, kaum beriman yang telah menunaikan ibadah Ramadan meraih kemenangan dengan terlahir kembali kepada fitrah kemanusiaan yang suci dan kuat hati. Secara khusus Idulfitri disebut hari raya kemenangan karena pada hari itu, shoimin dan shoimat dapat terlahir kembali sebagai orang-orang yang menang mengendalikan hawa nafsu setelah sebulan penuh berpuasa. Pada Ramadan itu, kaum Muslim melakukan jihad akbar mengendalikan hawa nafsunya.

Selain hari raya kemenangan, Idulfitri juga dapat dimaknai sebagai hari raya kesucian dan kekuatan. Fitrah tidak hanya bermakna suci, tetapi juga kekuatan. Usai sebulan penuh berpuasa, kaum beriman diharapkan dapat terlahir kembali dengan fitrah kemanusiaan yang suci, bersih dari dosa, dan mendapat kekuatan baru. Sejatinya ibadah-ibadah Ramadan mengandung dua arti, yaitu tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) dan tarbiyatun nafs (penguatan diri).

Penulis berharap momentum hari raya Idulfitri bukan hanya sekadar meraih kemenangan, tetapi semestinya umat Islam harus mempertahankannya. Seringkali, untuk menjadi pemenang tidaklah begitu susah, tapi untuk mempertahankan kemenangan pun tidaklah mudah mereka yang tidak mampu mempertahankan kemenangan akan terjatuh pada predikat pecundang. Hal itu sering kali tampak di kalangan umat yang tidak mampu memelihara nilai-nilai Ramadan pada bulan berikutnya. Orang yang menang di hari raya adalah mereka yang meraih ketakwaan. Ini tidaklah mudah sebab meraih ketakwaan membutuhkan perjuangan.

Read Entire Article
Rakyat news| | | |