Bahlil Lahadalia
FAJAR.CO.ID - Pemerintah Indonesia berencana meluncurkan insentif baru mulai 2026 untuk mendorong konversi sepeda motor berbahan bakar bensin menjadi motor listrik. Langkah ini merupakan bagian dari strategi mempercepat transisi energi dan mengurangi konsumsi bahan bakar minyak (BBM) di sektor transportasi yang selama ini menjadi salah satu penyumbang utama penggunaan BBM di Tanah Air.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa pemerintah akan memberikan kemudahan dan "sweetener" agar proses beralih ke motor listrik tidak memberatkan masyarakat secara biaya.
"Negara akan hadir tanggung renteng dengan masyarakat ketika di-switch dari bensin ke motor listrik, pasti ada semacam sweetener-nya," katanya.
Upaya Percepatan Transisi Energi dan Pengurangan Emisi
Indonesia memiliki lebih dari 120 juta sepeda motor bensin yang masih aktif digunakan, menjadikan sektor roda dua sebagai kontributor signifikan konsumsi BBM nasional. Dengan mengonversi sebagian besar motor tersebut menjadi motor listrik, pemerintah berharap dapat menekan konsumsi BBM secara signifikan sekaligus mengurangi emisi gas buang.
Program ini sejalan dengan target pemerintah untuk mempercepat penggunaan energi ramah lingkungan dan mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.
Pengalaman dan Tantangan Program Konversi Motor Listrik
Sebelumnya, pemerintah telah menjalankan program konversi motor listrik dengan subsidi biaya konversi sekitar Rp5 juta hingga Rp6 juta, tergantung spesifikasi komponen dan kapasitas baterai. Namun, untuk meningkatkan partisipasi masyarakat, insentif baru diharapkan dapat membuat biaya konversi menjadi lebih terjangkau.















































