Ilustrasi Pandemi Covid-19
FAJAR.CO.ID, JAKARTA -- Varian baru COVID-19 kembali menarik perhatian dunia. Kali ini, varian BA.3.2 dari virus SARS-CoV-2 ramai diperbincangkan dan mendapat julukan 'cicada'.
Julukan tersebut muncul karena kemunculannya yang sempat tidak banyak terdeteksi sebelum akhirnya kembali menyebar, menyerupai siklus kemunculan serangga cicada.
Perhatian terhadap varian ini meningkat setelah dilaporkan dalam Morbidity and Mortality Weekly Report (MMWR) oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC) pada 19 Maret 2026.
Muncul Sejak 2024, Kembali Meluas pada 2026
BA.3.2 sebenarnya bukan varian yang benar-benar baru. Varian ini pertama kali terdeteksi di Afrika Selatan pada November 2024.
Sepanjang 2025, keberadaannya relatif tidak banyak mendapat perhatian.
Mengutip Forbes, memasuki 2026, penyebaran BA.3.2 mulai meningkat. Varian tersebut dilaporkan telah terdeteksi di sedikitnya 23 negara, termasuk Amerika Serikat.
Di Amerika Serikat, BA.3.2 juga ditemukan di 23 negara bagian melalui pengujian pada manusia maupun sampel air limbah.
Minimnya pemantauan COVID-19 secara real-time di sejumlah wilayah membuat penyebaran sebenarnya diperkirakan lebih luas dari yang terdata.
Disebut Sangat Berbeda Secara Genetik
Dalam laporan CDC, BA.3.2 dikategorikan sebagai varian yang 'highly divergent' atau sangat berbeda secara genetik dibandingkan varian sebelumnya.
Artinya, varian ini merupakan garis keturunan baru dari virus COVID-19.
Secara genetik, BA.3.2 memiliki perbedaan signifikan dibanding varian JN.1 yang beredar sejak 2024, termasuk turunannya seperti LP.8.1 dan XFG.

















































