Narasi Ikhtiar Indonesia di BoP Dinilai Tak Punya Dasar Kuat

2 hours ago 5
Prabowo Subianto di BoP

FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Analis Strategi Institut Fauzan Luthsa mengkritisi narasi pembelaan pemerintah atas keanggotaan Indonesia di Board of Peace (BoP), khususnya pernyataan-pernyataan Menteri ATR/Kepala BPN yang juga Ketua Bidang Penanggulangan Bencana MUI Nusron Wahid pascapertemuan di Istana Kepresidenan, Kamis (5/3/2026).

Menurut Fauzan, Nusron secara konsisten menggunakan tiga frasa yang sama setiap kali desakan mundur menguat: ikhtiar, maslahat, dan pintu keluar sudah disiapkan. "Ketiganya terdengar seperti argumen. Tidak satu pun bisa diverifikasi," ujarnya, Jumat (6/3).

Fauzan menilai klaim bahwa BoP adalah "satu-satunya meja perundingan yang masih aktif" bukan argumen geopolitik, melainkan pengakuan kelemahan yang dibungkus sebagai kebijaksanaan.

“Jika satu-satunya alasan Indonesia bertahan adalah ketiadaan pilihan lain — bukan karena Indonesia punya pengaruh nyata di dalamnya — maka yang disebut ikhtiar itu bukan strategi. Itu pasrah dengan diksi yang lebih terhormat," katanya.

Lebih jauh, ia menyoroti bahwa BoP adalah forum yang didesain, diketuai, dan dikendalikan Washington. Trump bahkan disebut chairman for life dalam charter-nya. Dalam pandangan Fauzan, Indonesia hadir di sana bukan sebagai aktor yang membentuk agenda, melainkan sebagai peserta yang memberi forum itu legitimasi di mata dunia Islam.

"Negara Muslim terbesar dunia duduk di meja Trump, dan itu sendiri sudah cukup berguna bagi Washington tanpa Indonesia perlu bicara apapun," ujarnya.

Ia juga mempertanyakan tawaran 8.000 personel pasukan stabilisasi yang hingga kini belum terealisasi tanpa kejelasan mandat, rantai komando, maupun mekanisme akuntabilitas. Dalam geopolitik militer, ia menegaskan, pasukan tanpa mandat yang jelas bukan aset tawar. "Mereka adalah risiko yang belum dibayar," katanya.

Read Entire Article
Rakyat news| | | |