Ilustrasi pasokan BBM
FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Sejumlah negara di Asia Tenggara menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), beberapa lainnya telah mengumumkan krisis energi. Pemerintah dan Pertamina menanggapinya.
Diketahui, dua negara yang mengumumkan krisis energi, Filipina dan Bangladesh. Secara global, hampir 85 negara di dunia telah menaikkan harga BBM, di kawasan Asia Tenggata tak terkecuali.
Di Vietnam misalnya, kenaikan tertinggi, mencapai 50 persen. Kenaikan ini terbilang drastis, namun dianggap rasional karena cadangan minyak sekitar 15 hari konsumsi nasional.
Malaysia juga menaikkan harga BBM, begitu pula Thailand. Bahkan Singapura sekalipun.
Lalu, bagaimana dengan Indonesia?
Senior Supervisor Commrel Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi, Okky Aditya Wibowo menyebut pihaknya masih memantau perkembangan. Berkoordinasi dengan pemerintah.
“Terkait isu yang berkembang pertamina dan pemerintah terus memantau perkembangan yang terjadi,” kata Okky saat dikonfirmasi fajar.co.id, Rabu (25/3/2026).
Pihak Pertamina, kata Okky, telah menyiapkan strategi dan skenario. Dengan membaca kemungkinan yang terjadi.
Meski begitu, dia tak merinci skenario apa. Serta kemungkinan apa yang dimaksud.
“Dengan menyiapkan segala strategi dan skenario yang mungkin terjadi,” terangnya.
Purbaya Minta Siap-siap
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa mengingatkan bahwa Indonesia harus tetap waspada terhadap potensi dampak lanjutan, terutama dari sisi pasokan energi.
Menurut Purbaya, ancaman utama dari krisis energi global bukan semata-mata kenaikan harga, melainkan terganggunya pasokan energi.

















































