Penentuan Hilal di Asia Tenggara Diperbarui: Kriteria Baru Tinggi Hilal Minimal 3 Derajat dan Elongasi 6,4 Derajat

4 hours ago 8
Ilustrasi

FAJAR.CO.ID - Penentuan awal bulan hijriah di kawasan Asia Tenggara kini mengadopsi kriteria baru yang lebih realistis secara astronomis setelah kajian panjang oleh para pakar falak dan astronom dari negara-negara anggota MABIMS (Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura).

Perubahan ini menjadi tonggak penting dalam menetapkan awal Ramadan, Syawal, dan Zulhijah secara lebih terukur dan dapat dipertanggungjawabkan, menggantikan kriteria sebelumnya yang dianggap memiliki keterbatasan dalam visibilitas hilal.

Kriteria Lama dan Keterbatasannya

Sejak 1992, MABIMS menggunakan kriteria imkanur rukyat dengan parameter 2–3–8, yakni tinggi hilal minimal 2 derajat, elongasi 3 derajat, serta umur bulan minimal 8 jam setelah ijtimak sebagai acuan dalam menilai visibilitas hilal. Namun, data astronomi dan pengamatan menunjukkan bahwa pada posisi hilal dengan tinggi sekitar 2 derajat dan elongasi 3 derajat, sabit bulan sangat tipis dan sering tertutup cahaya syafak sehingga sulit diamati secara kasat mata.

Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah, Arsad Hidayat, menjelaskan bahwa peluang terlihatnya hilal pada kriteria lama sangat kecil.

"Pada ketinggian sekitar 2 derajat dengan elongasi 3 derajat, hilal masih sangat tipis dan sering tertutup cahaya syafak, sehingga peluang terlihatnya sangat kecil," jelasnya.

Kajian Ulang dan Kesepakatan Kriteria Baru

Keterbatasan tersebut mendorong para pakar falak dan astronom dari MABIMS melakukan kajian ulang melalui forum ilmiah, musyawarah rukyat, serta penelitian berbasis data pengamatan global yang terus berkembang.

Read Entire Article
Rakyat news| | | |