Perang dan Narasi: Siapa Menguasai Cerita, Dia Menguasai Dunia

3 hours ago 5
Mustamin Raga (Pengamat Sosial dan Politik)

Oleh: Mustamin Raga (Pengamat Sosial dan Politik)

Perang Amerika-Israel melawan Iran hari ini tidak hanya meledak di langit. Ia belakangan juga meledak di layar-layar TV dan gawai.

Rudal melesat dari pangkalan militer, tetapi narasi meluncur dari podium dan akun media sosial. Ledakan menghancurkan bangunan, tetapi propaganda membentuk kesadaran. Dan sering kali, yang lebih menentukan masa depan bukanlah siapa yang paling kuat persenjataannya, melainkan siapa yang paling piawai menguasai cerita.

Dalam konflik antara Israel dan Iran, dengan keterlibatan terbuka Amerika Serikat, Presiden Donald Trump mulai memainkan sesuatu yang jauh lebih halus dari sekadar strategi militer, yakni propaganda. Dan propaganda, sebagaimana kita tahu, bukan sekadar kebohongan. Ia adalah seni mengatur tafsir.

Narasi Ancaman dan Politik Ketakutan

Setiap perang membutuhkan alasan moral. Tidak ada negara yang dengan mudah berkata: “Kami menyerang karena kami ingin berkuasa.” Selalu ada narasi pembelaan diri. Selalu ada ancaman yang diperbesar. Selalu ada musuh yang digambarkan sebagai bahaya eksistensial.

Dalam pidato-pidatonya, Trump membingkai Iran sebagai ancaman global—bahaya nuklir, ancaman bagi sekutu, risiko bagi keamanan Amerika. Framing semacam ini bukan kebetulan. Ia adalah pilihan kata yang terukur. Satu kata bisa menyalakan kemarahan. Satu label bisa menghapus simpati. Satu pengulangan bisa menciptakan ketakutan kolektif.

Di sinilah propaganda bekerja. Ia tidak selalu mengarang fakta. Ia cukup memilih fakta yang paling menakutkan, lalu mengulangnya sampai ketakutan itu terasa rasional.

Read Entire Article
Rakyat news| | | |