FAJAR.CO.ID, JAKARTA -- Sutradara film dokumenter Dirty Vote, Dandhy Laksono, menanggapi pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut negara-negara Barat mungkin kebingungan melihat polisi Indonesia menanam jagung dan terlibat dalam pengelolaan dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Dandhy justru mengaku melihat tidak ada kebingungan dari pihak luar. Ia mengaitkan keterlibatan aparat dengan kebutuhan dukungan politik dan logistik.
Legitimasi dan Dukungan Aparat
Dikatakan Dandhy, keterlibatan aparat dalam proyek pangan bukan sesuatu yang membingungkan.
Ia justru mengaitkannya dengan legitimasi politik dan kebutuhan dukungan kekuatan.
"Gak ada yang bingung. Menang pemilu curang, legitimasi rendah. Butuh dukungan otot, otak, ongkos," ujar Dandhy dikutip fajar.co.id, Jumat (27/3/2026).
Ia kemudian menyinggung peran aparat keamanan dalam proyek tersebut.
"Polisi dan tentara jadi otot, dikasih proyek dan logistik. Dibungkus narasi ketahanan pangan," sebut dia.
Narasi Ketahanan Pangan
Dandhy juga mengkritik narasi ketahanan pangan yang dikaitkan dengan proyek penanaman komoditas tertentu.
Kata dia, kebijakan tersebut tidak membutuhkan argumentasi kompleks.
"Gak perlu cerdas buat beginian. Cukup mental culas dan tahan malu," sesalnya.
Lanjut Dandhy, pengembangan komoditas dalam skala luas tidak selalu berkorelasi dengan kebutuhan pangan masyarakat.
"Padahal jagung, singkong, atau tebu jutaan hektar seperti di Papua, gak ada hubungannya dengan ketahanan pangan rakyat," terangnya.
Logika Food Estate Dianggap Keliru

















































