Cendekiawan Nahdlatul Ulama (NU), Gus Hilmi Firdausi
FAJAR.CO.ID, JAKARTA -- Kebijakan efisiensi anggaran Presiden Prabowo Subianto ternyata juga berdampak pada pemotongan dana Perpustakaan Nasional.
Cendekiawan Nahdlatul Ulama (NU), Gus Hilmi Firdausi, mempertanyakan langkah tersebut di tengah tingkat literasi Indonesia yang masih rendah dibanding negara lain di Asia maupun ASEAN.
Dikatakan Hilmi, kebijakan pemangkasan anggaran perpustakaan justru berpotensi menghambat upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Ia menegaskan bahwa pembangunan SDM tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan fisik, tetapi juga penguatan kapasitas intelektual melalui budaya membaca.
Literasi Indonesia Disebut Masih Rendah
Gus Hilmi menyinggung posisi Indonesia dalam indeks literasi kawasan. Ia menyebut tingkat literasi nasional masih tertinggal dibanding sejumlah negara di Asia.
"Padahal tingkat literasi bangsa ini adalah salah satu yang terendah di Asia," ujar Gus Hilmi dikutip fajar.co.id, Kamis (26/3/2026).
"Bahkan di ASEAN kita peringkat ke 6 dari 8 negara," tambahnya.
Lanjut dia, kondisi tersebut seharusnya menjadi perhatian pemerintah untuk memperkuat fasilitas dan akses membaca, bukan justru mengurangi anggarannya.
Anggaran Perpustakaan Dipangkas
Gus Hilmi kemudian menaruh perhatiannya pada kebijakan efisiensi anggaran yang berdampak pada Perpustakaan Nasional.
Ia mempertanyakan keputusan tersebut di tengah kebutuhan peningkatan literasi masyarakat.
"Tapi anggaran Perpustakaan Nasionalnya malah dipotong," cetusnya.
Baginya, langkah tersebut berpotensi kontraproduktif terhadap upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia.

















































