Prof Rhenald Kasali
FAJAR.CO.ID - Lonjakan harga minyak hingga menembus 110 USD per barel dan pelemahan rupiah yang sudah melewati Rp17 ribu per USD menimbulkan tekanan berat bagi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Prof Rhenald Kasali, menegaskan bahwa pemerintah kini dihadapkan pada pilihan sulit: mempertahankan subsidi BBM yang akan membengkakkan beban APBN atau melanjutkan proyek Mandatori Bahan Bakar Gas (MBG) yang tengah ramai diperbincangkan masyarakat.
"Apa yang harus dilakukan, pilih yang mana? Kan ekonomi pilihan. Pilih subsidi BBM atau menjalankan proyek yang sedang ramai masyarakat persoalkan. Lalu ke mana negara kita?" katanya dalam unggahan di Instagram, Selasa (10/3/2026).
Lebih lanjut, Rhenald mengingatkan bahwa harga minyak yang mahal harus menjadi perhatian serius karena berpotensi mengancam stabilitas ekonomi nasional. "Ingat yah, harga minyak akan mahal, dan tentu kita harus waspada. Apakah ini suatu pilihan yang bijak? Atau kita perlu segera mengambil tindakan untuk mengamankan kita semua?" bebernya.
Rupiah Tembus Batas Psikologis, Ancaman Kemiskinan Mengintai
Rupiah yang sudah menyentuh Rp17 ribu per USD dianggap Rhenald sebagai batas psikologis yang sangat krusial. Ia mengingatkan kondisi serupa pernah terjadi pada 1998 ketika rupiah melemah drastis hingga di atas Rp10 ribu, yang memicu lonjakan kemiskinan, pengangguran, dan penjualan perusahaan-perusahaan nasional ke asing.
"Ketika rupiah sudah tembus menjadi Rp17 ribu, ini batas psikologis. Dulu itu kita berupaya keras untuk mengembalikan di bawah Rp10 ribu, tahun 1998," jelasnya.

















































