Ilustrasi (AI)
Oleh: Kasri Riswadi
(Wakil Ketua Pemuda Muhammadiyah Sulsel)
Sudut sebuah warung kopi menjadi latar di suatu pagi yang tenang, tepat di ambang bulan suci. Di tengah percakapan tentang politik kebangsaan khas diskusi warung kopi, tiba-tiba kawan ngopiku meluapkan kejenuhannya. "Era digital ini sepertinya sedang merenggut rasa bahagiaku secara perlahan," keluhnya pelan.
Di tangannya, sebuah ponsel pintar tampak seperti pusat semesta yang menyedot seluruh perhatiannya. Ia tampak lelah, seolah seluruh energi hidupnya telah terhisap ke dalam layar berukuran 6 inci itu.
Keluhan ini terasa kian nyaring saat kita memasuki Ramadan. Bulan yang seharusnya menjadi momentum detoksifikasi jiwa dan refleksi mendalam, justru sering kali terjebak dalam keriuhan notifikasi dan kepraktisan tanpa henti.
Digitalisasi Dapur
Kita tidak bisa memungkiri bahwa dunia sedang menciut. Segala sesuatunya kini terasa hambar karena semua aktivitas semakin tersentralisasi pada satu perangkat genggam. Namun, ada satu pergeseran yang paling kronis sekaligus luput dari perhatian kita: digitalisasi hasil dapur, terutama saat momen berbuka puasa.
Digitalisasi hasil dapur di sini bukan berarti kita memasak menggunakan algoritma, melainkan ketergantungan mutlak pada aplikasi pemesanan makanan pihak ketiga. Memang praktis, namun kepraktisan ini menuntut bayaran yang mahal, yakni hilangnya pengalaman manusiawi dan ritual ibadah yang menyertainya.
Ketika dapur berhenti mengepul, kita tidak hanya kehilangan asupan nutrisi yang terukur, tetapi juga kehilangan keterampilan hidup (life skills) yang mendasar. Generasi hari ini mungkin lebih fasih mengoperasikan antarmuka aplikasi daripada membedakan jahe dengan lengkuas.

















































