Guru besar hubungan internasional di Universitas Negeri Saint Petersburg, Connie Rahakundini Bakrie,(ist)
FAJAR.CO.ID, JAKARTA -- Peringatan sejumlah ekonom mengenai kondisi perekonomian Indonesia memicu perdebatan publik setelah nilai tukar rupiah melemah dan pasar saham bergejolak. Namun pemerintah menegaskan bahwa kondisi ekonomi nasional masih berada dalam fase ekspansi dan belum menunjukkan tanda-tanda krisis.
Guru besar hubungan internasional di Universitas Negeri Saint Petersburg, Connie Rahakundini Bakrie, menyebut Indonesia sedang menghadapi situasi yang tidak sepenuhnya baik.
Pernyataan itu ia sampaikan setelah menghadiri pertemuan bersama sejumlah tokoh ekonomi nasional, termasuk para mantan Gubernur Bank Indonesia dan mantan Menteri Keuangan.
“Indonesia gak baik-baik aja. Dua hari lalu saya diundang oleh semua mantan Gubernur Bank Indonesia, semua mantan Menteri Keuangan,” kata Connie dalam unggahannya di media sosial X, Selasa (10/3/2026).
Connie menilai salah satu indikator yang patut diwaspadai adalah nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Menurutnya, pelemahan rupiah yang terlalu dalam bisa berdampak serius bagi perekonomian nasional. Ia bahkan mengingatkan potensi risiko besar jika nilai tukar menyentuh level tertentu.
“Indonesia tiga bulan lagi nih, itupun kalau udah bagus yah. Tapi kalau dolar udah Rp22 ribu tidak bisa kita tahan, Indonesia selesai,” ujarnya.
Pandangan serupa juga disampaikan Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Rhenald Kasali. Ia menyoroti pelemahan rupiah yang sempat menembus angka Rp17 ribu per dolar AS, yang menurutnya merupakan batas psikologis penting dalam perekonomian Indonesia.














































