Ilustrasi -- (MIFTAHULHAYAT/JAWA POS)
FAJAR.CO.ID, JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat masih mampu bertahan di kisaran Rp 16.800 meskipun pasar global sedang bergejolak, berkat koordinasi yang solid antara pemerintah dan Bank Indonesia (BI) serta fondasi ekonomi domestik yang kuat.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa kondisi tersebut masih dapat dikendalikan selama ekonomi nasional tetap sehat. "Enggak ah, masih Rp 16.800-an. Selama fondasi ekonomi kita bagus, mengendalikan rupiah lebih gampang dibanding kalau ekonomi lagi berantakan," katanya saat ditemui di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (10/3).
Peran Koordinasi Pemerintah dan Bank Indonesia
Purbaya menjelaskan bahwa stabilitas nilai tukar rupiah sangat dipengaruhi oleh kondisi ekonomi domestik yang sehat serta koordinasi yang kuat antara pemerintah dan otoritas moneter. Menurutnya, kerja sama yang harmonis ini menjadi kunci utama dalam menjaga nilai tukar rupiah tetap stabil di tengah dinamika pasar global.
"Kalau kita memastikan perkembangan ekonomi bagus, uang di sistem cukup, dan BI mungkin monitor keadaan nilai tukar seperti apa. Jadi kerja sama yang enak antara pemerintah dengan BI perlu untuk menjaga stabilitas nilai tukar," jelasnya.
Lebih lanjut, Purbaya menilai bahwa koordinasi yang solid antara pemerintah dan BI memudahkan upaya meredam gejolak pasar dunia yang berdampak pada pergerakan rupiah. "Kalau kompak seperti ini, enggak terlalu sulit mengendalikan gejolak pasar dunia," pungkasnya.
Faktor Penguatan Rupiah
Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan di Jakarta, Selasa (10/3), menunjukkan penguatan sebesar 86 poin atau 0,51 persen menjadi Rp 16.863 per dolar AS dari penutupan sebelumnya yang tercatat Rp 16.949 per dolar AS.















































