FAJAR.CO.ID - Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov, menegaskan bahwa Rusia tidak akan memaksa Iran untuk menahan diri dalam konflik Timur Tengah, meski mendapat tekanan dari negara-negara Arab. Pernyataan ini disampaikan Lavrov saat bertemu dengan para duta besar negara Teluk di Moskow pada Maret 2026, menandai posisi tegas Moskow yang semakin independen dalam diplomasi kawasan.
Lavrov menyoroti sikap negara-negara Arab yang dianggapnya memiliki standar ganda, terutama terkait respons mereka terhadap serangan militer Amerika Serikat dan Israel. Ia mempertanyakan mengapa ada kecaman keras terhadap Iran, namun tidak ada kecaman serupa terhadap aksi militer AS dan Israel yang menimbulkan korban sipil, termasuk pemboman di Iran yang menewaskan ratusan warga.
"Apakah ada kecaman yang sama terhadap serangan yang menimbulkan korban sipil?" kata Lavrov dalam pertemuan tersebut.
Rusia Tegaskan Kebijakan Luar Negeri Independen
Lavrov menjelaskan bahwa kebijakan luar negeri Rusia tetap independen dan tidak akan tunduk pada tekanan pihak manapun, termasuk dari negara-negara Arab. Sikap ini memperlihatkan bahwa Moskow memilih jalur diplomasi yang berbeda dalam menghadapi ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Ia juga menyinggung rencana pengajuan resolusi Dewan Keamanan PBB yang mengecam Iran, namun tidak menyebut serangan awal yang dilakukan oleh pihak lain, seperti yang diusulkan oleh beberapa negara Arab, termasuk Bahrain.
"Ada indikasi standar ganda dalam pendekatan diplomatik beberapa negara Arab," beber Lavrov.
Perubahan Arah Diplomasi Rusia dan Dampaknya
Pernyataan Lavrov ini dinilai mencerminkan perubahan arah diplomasi Rusia yang semakin mendekat ke Iran. Ia menegaskan bahwa tidak adil jika Iran diminta menahan diri sementara tindakan militer pihak lain dibiarkan tanpa kecaman.
















































