Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono
FAJAR.CO.ID, JAKARTA -- Negosiasi nuklir antara Amerika Serikat dengan Iran telah melewati putaran ketiga setelah pertemuan yang dilakukan secara tidak langsung di Jenewa, Swiss, pada Kamis (26/2).
Juru bicara Kementerian Luar Negeri, Esmaeil Baqaei telah mengkonfirmasi berakhirnya sesi kedua putaran ketiga pembicaraan pada hari Kamis yang, seperti dua putaran sebelumnya, dimediasi oleh diplomat utama Oman, Sayyid Badr bin Hamad Al Busaidi.
Delegasi Iran dipimpin oleh Menteri Luar Negeri, Abbas Araghchi dan tim Amerika diwakili oleh Utusan Khusus AS, Steve Witkoff dan menantu Presiden Donald Trump, Jared Kushner.
Setelah tiga jam pembicaraan intensif, kedua pihak beristirahat agar delegasi dapat berkonsultasi dengan ibu kota masing-masing mengenai isu-isu yang dibahas. Mereka kembali melakukan negosiasi selama sekitar dua jam.
Usai pertemuan ketiga kedua delegasi tersebut, banyak pihak yang mulai meragukan keduanya bisa mencapai kesepakatan. Betapa tidak, tuntutan yang diajukan Amerika Serikat terhadap Iran sama sekali tidak bisa diterima oleh Iran, terutama soal trandsfer uranium keluar dari Iran.
Hasil pertemuan kedua negara itu turut menjadi perhatian Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Dia menyebut, usai pertemuan tersebut akan menjadi hari-hari menentukan antara Amerika dan Iran, apakah damai atau perang.
Berikut pandangan SBY yang dikutip dari akun media sosialnya.
Jenewa kota yang indah, damai dan saat ini hawanya sejuk. Namun, jam-jam ini, hari-hari mendatang, kota yang penuh legenda ini bisa menjadi saksi sejarah. Bisa melahirkan sebuah “game change” yang berimplikasi besar pada perkembangan dunia.

















































