Presiden Prabowo saat tiba di Jepang.
FAJAR.CO.ID, JAKARTA -- Kader PDIP, Mohamad Guntur Romli, kembali menyerang Presiden Prabowo Subianto dengan argumen menohoknya.
Kali ini, ia mengulik pidato Prabowo saat kunjungan ke Jepang.
Dikatakan Guntur, retorika yang menyebut Indonesia saat ini bukan seperti 20-25 tahun lalu berpotensi menimbulkan tafsir berbeda di kalangan mitra strategis.
Retorika di Jepang Dianggap Naif
Guntur menilai pernyataan tersebut mungkin dimaksudkan sebagai pesan optimisme, namun kurang tepat jika disampaikan di hadapan investor dan pejabat Jepang.
"Di telinga para penguasa ekonomi dan birokrat Tokyo, kalimat ini justru terdengar naif," ujar Guntur dikutip fajar.co.id, Selasa (31/3/2026).
"Jika tidak ingin disebut sebagai bentuk meremehkan intelektualitas mitra strategis. Ada sesat pikir yang terselip dalam retorika itu," tambahnya.
Jepang Sudah Lama Memahami Indonesia
Kata dia, Jepang merupakan mitra ekonomi yang telah lama mengikuti perkembangan Indonesia secara detail.
"Prabowo seolah-olah berasumsi bahwa investor dan diplomat Jepang baru saja bangun dari tidur panjang selama 2 dekade," ucapnya.
Guntur bahkan menegaskan bahwa Jepang merupakan salah satu investor paling tekun yang mencatat setiap denyut nadi ekonomi Indonesia.
"Mereka tidak mengenal Indonesia melalui brosur pariwisata, melainkan lewat laporan audit, indeks korupsi, dan kerumitan birokrasi yang mereka geluti setiap hari di lapangan," cetusnya.
Ia menyebut retorika tersebut berisiko dinilai sebagai kenaifan diplomatik.
"Berpidato seolah-olah menganggap mereka tiidak mengenal lagi Indonesia selama 20-25 tahun adalah kenaifan diplomatik," imbuhnya.

















































