Trophi Piala Dunia dulu dan sekarang. (INT)
FAJAR.CO.ID, JAKARTA - Sejarah Piala Dunia mencatat sejumlah negara yang pernah melakukan boikot atau mundur dari keikutsertaan karena alasan politik, protes kuota, maupun solidaritas. Momentum tersebut menegaskan bagaimana sepak bola tidak hanya soal olahraga, melainkan juga cerminan dinamika politik global yang kompleks.
Contoh paling menarik terjadi pada Piala Dunia 1966, ketika 15 negara Afrika secara serentak memboikot kualifikasi sebagai bentuk protes terhadap jatah slot yang dianggap tidak adil. Keputusan ini menjadi simbol perlawanan terhadap ketidaksetaraan dalam dunia sepak bola internasional.
Boikot Berdasar Alasan Politik dan Solidaritas
Kasus lain yang tak kalah penting adalah Uni Soviet pada 1974. Negara ini menolak memainkan leg kedua playoff di Chile sebagai protes atas kudeta militer yang terjadi di sana. Tindakan tersebut menunjukkan bagaimana konflik politik domestik sebuah negara bisa berimbas pada arena olahraga internasional.
Sementara itu, pada 1958, Indonesia, Mesir, dan Sudan menolak bertanding melawan Israel di babak kualifikasi Piala Dunia. Langkah ini diambil sebagai bentuk solidaritas dan sikap politik terhadap situasi yang terjadi di Timur Tengah saat itu.
Boikot Karena Alasan Gengsi dan Protes Kuota
Pada Piala Dunia 1934, beberapa negara Eropa seperti Inggris, Skotlandia, Wales, dan Irlandia menolak ikut bertanding dengan alasan gengsi dan menganggap turnamen domestik mereka lebih bergengsi. Uruguay juga melakukan boikot pada tahun yang sama sebagai protes terhadap ketidakhadiran negara-negara Eropa di Piala Dunia 1930 yang digelar di Uruguay.















































