Juru Bicara PDIP, Mohamad Guntur Romli,
FAJAR.CO.ID, JAKARTA -- Juru Bicara PDIP, Mohamad Guntur Romli, bicara mengenai keinginan Presiden Prabowo Subianto menjadi juru damai pasca konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.
Seperti diketahui, Pemimpin Tertinggi Iran, Sayyid Ali Khamenei, meninggal dunia setelah Israel-Amerika melakukan serangan.
Dikatakan Guntur, hingga saat ini ia belum menemukan pernyataan resmi duka cita dari Presiden Prabowo atas meninggalnya kepala negara Iran tersebut.
“Saya belum menemukan ucapan duka cita dari Presiden Prabowo terhadap meninggalnya Sayyid Ali Khamenei, yang merupakan Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran,” ujar Guntur dikutip fajar.co.id, Selasa (3/3/2026).
Pertanyakan Etika dan Adab Diplomatik
Ia menegaskan, secara de facto saat wafat, Sayyid Ali Khamenei adalah kepala negara Iran, sementara Prabowo merupakan kepala negara sekaligus kepala pemerintahan Indonesia.
Menurutnya, Indonesia dan Iran merupakan negara sahabat yang memiliki relasi diplomatik kuat, baik secara bilateral maupun di tingkat internasional.
“Secara de facto, saat wafat, Sayyid Ali Khamenei adalah kepala negara Iran. Presiden Prabowo adalah kepala negara sekaligus kepala pemerintahan negara Indonesia,” sebutnya.
Pertanyakan Hambatan Ucapan Duka Cita
Guntur mengatakan, aneh jika seorang kepala negara sahabat wafat namun tidak ada pernyataan duka cita resmi dari Presiden Indonesia.
Ia menyebut, dari sisi etika dan adab ketimuran, ketiadaan ucapan bela sungkawa tersebut patut dipertanyakan.
“Tapi anehnya, ada kepala negara sahabat meninggal, Prabowo tidak mengucapkan kesedihan dan duka cita. Secara etika dan adab ketimuran, raibnya ucapan duka cita itu patut dipertanyakan,” tegasnya.














































