pegiat medsos Jhon Sitorus
FAJAR.CO.ID, JAKARTA -- Duka menyelimuti dunia pendidikan di Bengkulu Utara. Seorang siswa Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 2 Ketahun dilaporkan meninggal dunia setelah sebelumnya diduga mengalami keracunan makanan dalam program MBG yang belakangan menjadi perhatian publik.
Kabar tersebut cepat menyebar dan memantik reaksi publik. Perbincangan ramai terjadi di media sosial, termasuk dari pegiat medsos Jhon Sitorus yang menyampaikan belasungkawa sekaligus meminta evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program tersebut.
“Turut berduka cita atas meninggalnya siswa MIN 2 Ketahun Bengkulu Utara yang meninggal dunia diduga akibat keracunan MBG,” ujar Jhon, dikutip fajar.co.id, Selasa (3/3/2026).
Minta Evaluasi Total
Jhon menegaskan, kasus ini tidak bisa dianggap remeh. Ia menyinggung adanya laporan korban keracunan dalam jumlah besar sebelum kabar meninggalnya siswa tersebut mencuat.
“Sebaiknya MBG dievaluasi total. Korban keracunan sudah puluhan ribu, apalagi kalo sampai berita ini benar,” tegasnya.
Ingatkan soal Keselamatan Siswa
Ia juga mengingatkan agar peristiwa serupa tidak kembali terjadi. Baginya, aspek keselamatan peserta didik harus menjadi pertimbangan utama dalam setiap kebijakan, termasuk program distribusi makanan di sekolah.
“Jangan sampai terjadi Pembunuhan Massal,” tandasnya.
Isu Berawal dari Pesan Grup Orang Tua
Sorotan terhadap program MBG di MIN 2 Bengkulu Utara menguat setelah seorang siswa yang sempat menjalani perawatan intensif dinyatakan meninggal dunia pada Sabtu (28/2/2026).














































