FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Founder Malaka Project, Ferry Irwandi, coba membeda soal kasus yang tengah hangat persoalan videografer asal Sumatera Utara.
Mengingat juga ini bisa jadi sebagai simbol keresahan baru khususnya bagi pekerja-pekerja kreatif di bidang videografer.
Apalagi dalam kasus ini, sang videografer di seret ke meja hijau dalam perkara yang disebut-sebut sebagai kasus korupsi paling janggal.
Ferry Irwandi coba membedah secara rinci data dan dokumen yang berkaitan dengan perkara tersebut.
Yang menurutnya, videografer bernama Amsal itu bukan sekadar aneh, melainkan berpotensi menjadi preseden buruk bagi dunia ekonomi kreatif dan pengadaan barang-jasa di Indonesia.
“Ini adalah kasus yang paling konyol, paling aneh, paling absurd, dan paling memalukan,” kata Ferry dalam ulasannya di akun YouTube miliknya.
Semua bermula dari proyek pembuatan video profil desa di Kabupaten Karo, Sumatera Utara.
Amsal yang menawarkan proposal pembuatan video profil kepada sejumlah desa pada masa pandemi Covid-19. Dari penawaran itu, sebanyak 20 desa disebut sepakat menggunakan jasanya.
Dalam prosesnya semua berjalan lancar, sampai akhirnya video selesai dikerjakan, hasilnya diterima desa, dan laporan pertanggungjawaban juga rampung.
Namun beberapa tahun setelah proyek itu selesai, Amsal justru ditangkap dan didakwa melakukan tindak pidana korupsi.
Kemudian setelah semakin jadi pembahasan akar permasalahan diketahui terletak pada tuduhan mark up anggaran.
Dalam proposal yang diajukan, biaya pembuatan satu video profil dipatok Rp30 juta. Yang angka ini kemudian dipermasalahkan dan semakin melebar.

















































