Prabowo bersama sejumlah tokoh nasional. (INT)
FAJAR.CO.ID, JAKARTA -- Pengamat ekonomi dan politik, Heru Subagia, menyebut bahwa langkah Presiden Prabowo Subianto mengundang sejumlah mantan Presiden dan Wakil Presiden tidak semata-mata dilandasi semangat konsolidasi kebangsaan.
Seperti diketahui, Prabowo mengundang para mantan presiden dan wakil presiden ke Istana Kepresidenan Jakarta Selasa (3/3/2026) malam.
Beberapa yang hadir di antaranya Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Joko Widodo (Jokowi), hingga Jusuf Kalla.
Menurutnya, langkah tersebut justru lebih mencerminkan adanya kegelisahan politik dan ekonomi yang tengah dirasakan pemerintah saat ini.
"Saya melihat bahwa urgensi yang sangat mendesak Prabowo, bukan dalam kacamata kesadaran berbangsa dan bernegara," ujar Heru kepada fajar.co.id, Jumat (6/3/2026).
Ia menegaskan bahwa situasi yang dihadapi pemerintah saat ini membuat Presiden Prabowo merasa perlu merangkul tokoh-tokoh nasional untuk meredam tekanan yang muncul.
"Tetapi lebih mencerminkan bagaimana ketakutan yang sangat mendesak dirasakan dan akhirnya menyertakan mendesak untuk menjemput bola dengan menghadirkan tokoh-tokoh nasional," lanjutnya.
Dikaitkan dengan Polemik BoP
Heru mengaitkan langkah tersebut dengan kritik keras yang belakangan diarahkan kepada pemerintah terkait isu BoP.
"Saya cermati urgensi Prabowo melibatkan para mantan Presiden dan Wapres ini ada kaitannya saat ini Prabowo dihujat keras dalam hubungannya dengan BoP," ucapnya.
Ia menjelaskan, BoP awalnya dirancang sebagai upaya mendorong perdamaian. Namun dalam perkembangannya justru dinilai bergeser arah.
















































