Muliadi Saleh, Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran
Penulis: Muliadi Saleh, Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran
Ramadan tidak hanya menghadirkan suasana spiritual yang khusyuk, tetapi juga membangun sebuah ekosistem pengetahuan yang unik di ruang-ruang ibadah umat Islam. Di hampir setiap masjid, setelah salat Isya menjelang tarawih, setelah salat Magrib, bahkan dalam ceramah subuh dan tausiah singkat menjelang berbuka, mimbar-mimbar kecil berdiri sebagai ruang distribusi gagasan. Jemaah datang untuk salat, tetapi juga pulang dengan membawa sesuatu yang berharga yakni pengetahuan.
Di titik inilah para mubalig memainkan peran penting yang sering kali tidak disadari secara utuh. Mereka bukan sekadar penceramah yang berbicara spontan di hadapan jamaah. Di balik setiap ceramah yang terdengar sederhana, terdapat proses intelektual yang panjang: membaca kitab, menelusuri ayat-ayat Alquran, mengkaji hadis, menimbang konteks sosial, lalu meramu semuanya menjadi pesan yang dapat dipahami oleh jamaah yang beragam latar belakangnya.
Dengan kata lain, para mubalig adalah produsen pengetahuan. Mereka memproduksi makna dari teks-teks suci dan tradisi keilmuan Islam, kemudian mengolahnya menjadi bahasa yang hidup di tengah masyarakat. Mimbar masjid menjadi ruang tempat pengetahuan itu diproduksi sekaligus didistribusikan.
Dalam perspektif sosiologi pengetahuan, proses ini menarik. Pengetahuan agama tidak hanya hidup di perpustakaan atau di ruang akademik. Ia bergerak di ruang publik, disampaikan melalui suara manusia, diterima oleh telinga jamaah, lalu bertransformasi menjadi kesadaran baru dalam kehidupan sehari-hari. Ramadhan menjadikan proses ini berlangsung secara intensif dan masif. Selama satu bulan penuh, hampir setiap malam dan setiap subuh, mimbar-mimbar masjid berubah menjadi jaringan penyebaran pengetahuan keagamaan.
















































