“Work From Village: Paradigma dan Gerakan Kultural Baru Melihat Desa dan Kerja”

12 hours ago 10
Muliadi Sa;leh - Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran

Oleh:  Muliadi Saleh — Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran

Ada satu momen yang selalu terasa ganjil setelah  lebaran. Desa kembali sunyi. Jalanan yang kemarin riuh oleh tawa dan pelukan, mendadak lengang. Rumah-rumah kembali memeluk sepi. Seolah kebahagiaan hanya singgah sebentar, lalu pergi tanpa janji akan kembali.

Namun, bagaimana jika kali ini cerita itu berubah?

Di tengah arus kebijakan baru, pemerintah Indonesia tengah mengkaji langkah yang tampak sederhana namun menyimpan daya ubah yang dalam, yaitu  Work From Home (WFH) satu hari dalam sepekan bagi Aparatur Sipil Negara dan juga dianjurkan bagi sektor swasta, yang direncanakan mulai pasca-Lebaran 2026.

Kebijakan ini tidak lahir begitu saja. Ia bertolak dari kebutuhan efisiensi energi, penghematan bahan bakar minyak, serta upaya memperkuat ketahanan fiskal nasional di tengah gejolak harga energi global yang dipicu dinamika konflik di Timur Tengah. Ia juga belajar dari negara-negara tetangga yang telah lebih dahulu menapaki jalan serupa.

ASN non-pelayanan publik menjadi sasaran awal, sementara sektor-sektor krusial tetap dijaga ritmenya agar pelayanan tidak terputus. Di saat yang sama, dunia kerja mulai diperkenalkan pada satu gagasan yang lebih lentur: Work From Anywhere. Bekerja dari mana saja, tanpa kehilangan makna dan tanggung jawab.

Dan di sinilah imajinasi itu menemukan rumahnya.
Work from Village. Sebuah kemungkinan yang tumbuh dari kebijakan yang tampak administratif, namun berpotensi menjadi gerakan kultural. Jika selama ini kerja selalu ditarik ke kota, maka kini kerja diajak pulang. Pulang ke desa. Pulang ke asal.

Read Entire Article
Rakyat news| | | |