“Antara Rasa Rumah dan Logika Negara: Membaca MBG dengan Hati Jernih”

13 hours ago 11
Penulis: Muliadi Saleh,  Esais Reflektif | Arsitek Kesadaran Sosial

Penulis: Muliadi Saleh,  Esais Reflektif | Arsitek Kesadaran Sosial

Percakapan tentang Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sering dimulai dari hal sederhana. Tentang rasa. Lidah menjadi hakim pertama. Seolah kualitas kebijakan publik dapat diukur dari gurih atau tidaknya lauk di piring makan. Masyarakat kerap membaca program negara melalui pengalaman personal yang paling dekat yaitu dapur rumah, masakan ibu, dan ingatan masa kecil.

Padahal, dalam perspektif ilmu gizi dan kebijakan publik, rasa hanyalah pintu masuk, bukan tujuan utama. Program makan bergizi pada dasarnya adalah intervensi kesehatan masyarakat yakni  memastikan asupan protein, energi, vitamin, dan mineral terpenuhi secara konsisten pada anak usia sekolah. Ini bukan proyek kuliner, melainkan strategi pembangunan manusia. Rasa boleh menyenangkan, tetapi gizi harus dipastikan.

Masakan ibu tetap tak tergantikan, bukan sekadar karena bumbu, tetapi karena relasi emosional di dalamnya. Namun negara bekerja pada skala berbeda. Ia harus menakar kebutuhan nutrisi jutaan anak, bukan satu meja keluarga. Di titik inilah sentimentalitas perlu berdamai dengan rasionalitas.

Isu kedua yang mengemuka adalah kekhawatiran keracunan makanan. Kekhawatiran ini wajar. Setiap sistem penyediaan makanan massal, dari katering hajatan hingga kantin industri, memiliki risiko keamanan pangan. Dalam literatur kesehatan publik, justru risiko inilah yang menuntut hadirnya standar higienitas ketat, sistem pengawasan berlapis, serta edukasi pengelola dapur tentang sanitasi dan rantai distribusi pangan.

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:

Read Entire Article
Rakyat news| | | |